Langsung ke konten utama

(PART II) Ketegaran Survival di Pekan Perkenalan Khutbatul Arsy



Teringat pada suatu kenangan terpahit ketika itu,dimana setiap acara yang berkepanitiaan survival generation tak pernah luput dengan rintikan air hujan. Bahkan acara terbesar kami yaitu Pekan Khutbatul Ars’y , sungguh membuat kami meneteskan air mata ketika mengingatnya. Pukulan lonceng yang membangunkan tidur pulas kami tepat pukul 12 malam, membuat jantung kami berdetup kencang. Kami semua langsung bergegas menuju lapangan upacara diiringi dengan suara klakson riayah yang tak ada hentinya menggelinang di telinga kami.

Kami seraya berpikir bagaimana agar lapangan itu kering. Seluruh peralatan kami persiapkan. Entah emberlah, gayunglah , busa kasur dan lain sebagainya. Kami berjumlah 456 pasukan memulai memasuki medan perang demi kesuksesan acara kami. Tak ada satupun yang memperdulikan serbuan rintik hujan yang membasahi tubuh kami.  

Isak tangis kami , lantunan doa, serta air hujanpun bercampur aduk menjadi satu , ketika kami harus menguras lapangan upacara tengah malam dengan seluruh kekuatan yang kami miliki. Namun takdir berkata lain, sekian lama kami berusaha agar air hujan itu tidak menggenangi lapangan hijau itu. Tapi, hujan itu tak tahu diri ketika itu. Hujan semakin deras dan deras.

Kami mengadah ke langit seraya memohon kepada Sang Pencipta Alam ini. Tangan kecil ini terangkat , bibir ini berlantukan doa kepadaNya.

”Ya Allah cukupkanlah air hujan ini” ujar kami dalam doa.

Dan hujan deras itulah yang akan menjadi saksi bisu pengorbanan kami yang tak akan pernah terlupakan.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Survival's Song : 90 Langkah

Lyric Lagu 90 Langkah Gontor Kabut membelai lembut kampung damai Cahaya sang surya menghangatkan Para khalifah muda yang akan mengukir Pendidikan yang terbaik untuk dunia Tiada tersadar hati Telah jauh langkah kaki menapak 90   langkah penuh perjuangan Keikhlasan kesederhanaan dan keteguhan

Dunia Tak Seindah Bayangannya

Engkau telah lupa Bahwa kakimu masih menginjakkan dunia Kemudian meminta segalanya Padahal, dunia hanyalah alam fana