Teringat
pada suatu kenangan terpahit ketika itu,dimana setiap acara yang berkepanitiaan
survival generation tak pernah luput dengan rintikan air hujan. Bahkan acara
terbesar kami yaitu Pekan Khutbatul Ars’y , sungguh membuat kami meneteskan air
mata ketika mengingatnya. Pukulan lonceng yang membangunkan tidur pulas kami
tepat pukul 12 malam, membuat jantung kami berdetup kencang. Kami semua
langsung bergegas menuju lapangan upacara diiringi dengan suara klakson riayah
yang tak ada hentinya menggelinang di telinga kami.
Kami seraya
berpikir bagaimana agar lapangan itu kering. Seluruh peralatan kami persiapkan.
Entah emberlah, gayunglah , busa kasur dan lain sebagainya. Kami berjumlah 456
pasukan memulai memasuki medan perang demi kesuksesan acara kami. Tak ada
satupun yang memperdulikan serbuan rintik hujan yang membasahi tubuh kami.
Isak tangis
kami , lantunan doa, serta air hujanpun bercampur aduk menjadi satu , ketika kami
harus menguras lapangan upacara tengah malam dengan seluruh kekuatan yang kami
miliki. Namun takdir berkata lain, sekian lama kami berusaha agar air hujan itu
tidak menggenangi lapangan hijau itu. Tapi, hujan itu tak tahu diri ketika itu.
Hujan semakin deras dan deras.
Kami mengadah
ke langit seraya memohon kepada Sang Pencipta Alam ini. Tangan kecil ini
terangkat , bibir ini berlantukan doa kepadaNya.
”Ya Allah
cukupkanlah air hujan ini” ujar kami dalam doa.
Dan hujan deras
itulah yang akan menjadi saksi bisu pengorbanan kami yang tak akan pernah terlupakan.
Komentar
Posting Komentar