The new thing for me to
follow paper competition!
Sebagai
persiapan kontingen gontor putri 3 di “Festival Unida” , gp3 menyelenggarakan
acara miniatur fesda atau disebut juga “Fesda Intern” yangmana di dalamnya
berupa lomba-lomba yang nantinya akan dilombakan di Fesda 2018. Mahasiswi Unida divisi karangbanyu diadukan antar
fakultas-fakultas. Hingga akhirmya aku sendiri terpilih untuk mengikuti lomba
karya tulis ilmiah perwakilan prodi SAA( Studi Agama-agama). Really
that i feel shock! Bagaimana tidak ? mengerjakan tugas kuliah saja masih
dinomor-duakan, apalagi berkarya tulis + ilmiah pula. Ini merupakan tantangan terbesar bagiku untuk
belajar.
Perjuangan
pertama dimulai, perlombaan LKTI dijadwalkan pada hari minggu malam. H-3
untuk mengeluarkan ide mengenai apa yang
akan aku tulis kali ini. Setelah satu hari penuh, tak kunjung datang sebuah ide
tersebut. Dan akhirnya muncullah ide tersebut, dan segera memunculkan pokok
permasalahannya. Asal menulis yang penting maju lomba itulah prinsipku , tidak
mengharap untuk juara karena aku sadar bahwa aku hanya mahasiswi baru yang
belum tau apa-apa tentang hal menulis karya tulis ilmiah. H-1! Bingung
pusing tercampur aduk menjadi satu. Ternyata
menulis karya tulis ilmiah bukan hal yang mudah. Hingga merelakan waktu
istirahat demi menyelesaikan tulisan itu.
Ketika hari H
telah tiba. Bergegas menuju ruang multimedia dengan power point yang telah aku
siapkan. Ternyata aku menjadi peserta
pertama yang datang di tempat perlombaan. Beberapa menit kemudian, para peserta
lainnya berdatangan. Dan aku sempat berpikir untuk membatalkan lomba ini.
Bagaimana tidak? aku adalah peserta termuda ketika itu. Dan mereka adalah
orang-orang yang telah berpengalaman di bidang ini. My God, what must i do ! akhirnya
aku memberanikan diri untuk masuk ke ruang presentasi.
1 minggu kemudian...
Malam ini semua mahasiswi akan dikumpulkan untuk menyaksikan miss
kampus dan pembagian hadiah. Hujan lebatpun ikut menemani malam itu. Hingga
akhirnya kami satu kamar yang memiliki ruangan jauh dari peradaban, tertidur pulas menikmati suasana itu. Kami
tidak menghadiri acara tersebut. Hari berikutnya, si tria teman seprodi ,
menyapa dengan sedikit meledek. Dia mengabarkan bahwa aku menjadi juara pertama
LKTI. Tetap saja aku tak percaya hal itu. Dengan seiringnya waktu ternyata hal
itu bukan tipu belaka. Aku mendapat sepucuk kertas kecil yang bertuliskan
bahwasanya aku menjadi kontingen Gontor putri 3 pada acara festival unida
nanti. Berdebar , gugup rasanya, karena aku harus mati2an memulai perjuangan
lagi untuk melanjutkan perlombaan ini.
H-6 Festival Unida. Waktu yang sangat singkat untuk
persiapan kali ini. Sehingga kami benar2 di gembleng untuk mempersiapkan
perlombaan tersebut. Perlombaan Fesda dibagi
beberapa bagian. Termasuk di dalamnya olah pikir,olah rasa, olar raga,
dan olah dzikir. Ketika itu kami berkumpul dan kami diberi ketentuan bahwasanya
perlombaan olah fikir untuk berlatih di ruang perpustakaan. Bersama dengan
peserta debat bahasa arab , bahasa inggris , LKTI ,opini , resensi buku, dan
cerpen. Berjuang setiap siang, sore, malam demi mempersiapkan perlombaan ini.
Ketika itu hari minggu. Dan aku belum memulai untuk
menulis. Aku berusaha untuk memunculkan ide tersebut. Hingga akhirnya aku
memutuskan untuk membahas pendidikan karakter Gontor. Perlahan lahan aku tulis,
berfikir keras hingga larut malam dan akhirnya aku menyelesaikannya pada hari
Senin. Hari itu juga aku mendapatkan musyrifah atau pembimbing LKTI namanya kak
Hasna. Beliau ini adalah pakar LKTI di GP3. Aku mencoba untuk memajukan
makalahku, tapi ketika itu juga kak Hasna mengatakan bahwa judul yang aku
ajukan tidak menarik dan itu merupakan sesuatu yang old atau jadul. Oh God,
nyesek sebenarnya. Tapi mungkin memang benar perkataan beliau. Beberapa menit
kedepan kami berbincang mengenai hal ini. Akhirnya disitulah keluar ide-ide
baru dari perbincangan kami . Sehingga tersusunlah apa yang akan aku tulis
untuk kedua kalinya. Tak terasa jarum jam tertuju pada angka 12 malam. Bergegas
untuk memulai ulang karya tulis ilmiah ini. Memaksakan mata untuk tetap
bertahan di depan komputer dan mengasah otak. Ternyata masih banyak anak debat
yang sedang mengasah otak pula pada waktu itu. Setidaknya ada yang menemaniku
untuk membuka mata hingga larut malam dan berjuang bersama-sama demi nama baik
Gontor Putri 3.
Setelah berjam-jam menatap layar lebar, mengingat
bahwa besok mengajar akhirnya aku putuskan untuk mengakhiri tulis menulis ini
yang belum terlihat bentuknya. Hari demi hari bersi keras untuk membuat karya
tulis ini. Setiap malam harus bermalam di kamar kak Hasna, demi ilmu yang
beliau punya sehingga dapat berbagi pengalaman dan pengetahuan mengenai LKTI.
Tak terasa hari Rabu , H-2 festival Unida. Dan ini
merupakan hari terakhir pengumpulan makalah. Ketika itu pada sore hari, kak
Hasna mencoba mengoreksi kembali hasil karya tulisku, ternyata beliau menemukan
banyak kesalahan di dalamnya. Setelah maghrib, aku langsung bergegas menuju
kamar kak Hasna untuk meminta hasil koreksian. Aku harus mengatur ulang
beberapa kesalahan-kesalahan tersebut. Semua orang dikamar itu menyemangatiku ,
memberi motivasi dan sebagainya. Ketika itu aku kurang beruntung! Ternyata
hujan lebat menerjang, dan akhirnya mati lampu. Ya Allah, semakin
berputar-putar kepala ini. Akhirnya aku berusaha untuk meminjam laptop dan
meneruskan hasil tulisanku. Karena ketika itu aku dihantui bahwasanya terakhir
pengumpulan makalah jam 8 tepat. Sedangkan saat ini jarum jam tepat menunjukkan
angka 7 malam. Aku yakin Allah selalu bersamaku dan selalu memberi kemudahan
bagi hambaNya. Dan akhirnya pukul 8 kurang 10 aku berhasil menyelesaikannya dan
bergegas menuju kamar dengan basah kuyup untuk mengirim karya tulis ini via
e-mail.
Bukan hal yang mudah untuk menghela nafas, seketika
aku melihat betapa besarnya perjuangan anak-anak debat ketika itu yang masih
bisik dengan permasalahannya, dan ketika itu pula aku tak sanggup untuk
beraktivitas. Dan akhirnya aku memutuskan untuk tidur setelah mengirimkan
makalahku via e-mail. Setidaknya ini waktu yang tepat untuk beristirahat
setelah sekian lama mengorbankan waktu untuk segalanya demi perlombaan ini.
Hari Kamis pun tiba, H-1 menjelang Fesda. Ada satu
yang kurang dari persiapanku, yaitu powerpoint yang akan di presentasikan pada
hari H. Setelah subuh tepat aku bergegas untuk menatap layar komputer. Kali ini
membutuhkan pemikiran lagi agar apa yang nantinya akan dipresentasikan menarik
perhatian penonton. Lupa makan merupakan hal yang biasa. Fokus dan fokus
menjelang perlombaan. Dan akhirnya aku dapat menyelesaikan PP tersebut pada jam
8 pagi, ya maklum sedikit lama ,karena membutuhkan waktu yang lama untuk
merangkai apa yang harus kita tulis pada power point. Oke! Semua beres ,
sekarang waktu untuk berlatih berbicara.
Teng! Hari H ! Fesda dimulai , semua peserta telah
berkumpul menjadi satu di lapangan hijau untuk mengikuti acara pembukaan.
Dimulai dari kontingen gp1 hingga gp5 baris berjajar rapi. Deg-degan , takut ,
semuanya tercampur aduk menjadi satu ketika melihat lawan-lawan tersebut.
”Perlombaan ini laysa li ajli ku’us bal litahdziibi nufus.”Kata ustadz Suwarno
dalam pembukaan acara tersebut. Perkataan tersebut membuat aku semakin semangat
bahwa bukan piala yang dicari melainkan ilmu dari perlombaan. Fesda dibuka oleh
Bapak Wakil Pengasuh GP3 dan juga rekan-rekan dosen dengan sangat meriah dan
menggebu-gebu.
Setelah pembukaan acara, semua peserta bergegas
menuju tempat perlombaan masing-masing. Dan ketika itu aku bingung apa yang
harus aku lakukan karena mengingat bahwa perlombaan LKTI diselenggarakan pada
sore hari. Akhirnya aku putuskan untuk berkeliling untuk melihat
perlombaan-perlombaan lain sekaligus untuk menghilangkan rasa deg-degan yang
berlebihan ini. Hehe...
Tak terasa terik matahari telah memancarkan sinarnya
tepat di atas kepala. Pertanda siang hari telah tiba. Dan lagi aku hanya bisa
berlatih dan berlatih untuk mempersiapkan perlombaanku. Sembari aku melihat
perlombaan lain yang begitu menghibur yaitu cheerleaders hingga aku lupa waktu
bahwa jarum jam telah menunjukkan angka 3 tepat. Setengah jam menuju
perlombaanku dan aku dengan santainya tertawa pulas melihat perlombaan di
auditorium ini. Tiba-tiba Kak Annida selaku pembimbing kontingen, menghampiriku
, dan beliau mengatakkan sesuatu dengan berbisik di telingaku bahwa perlombaan
LKTI akan berlangsung dan mengajakku untuk bersiap-siap. Akhirnya aku kembali
dan mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat asar. Setelah solat, aku aku
kembali berlatih dengan disaksikan teman-temen dan kakak-kakak.
Waktu menunjukkan pukul 4 tepat. Aku beranjak dari
tempatku dan bergegas ke tempat perlombaan. Dan lagi aku merasa nge down,
karena hanya aku dan temanku satu prodi, Hastini, peserta dari kontingen GP2,
menjadi peserta termuda. Kak Annida dan temanku, Diany berusaha untuk
menenangkanku. Okay sekarang giliranku untuk presentasi. Aku mendapat nomor
urut kedua. Kubuka pintu ruangan erat-erat dengan penuh keyakinan bahwa aku
bisa. Dibelakangku, Diany, sembari mengikuti untuk mengambil gambar dan
merekamku ketika perlombaan. Perlombaan dimulai, aku mulai berbicara dan
berusaha meyakinkan dewan juri. Setelah selesai, dewan juri membanjiriku dengan
pertanyaan-pertanyaan yang telah dirangkai sedemikian rupa. Dan aku coba untuk
menjawab dengan yakin. Akhirnya aku bisa melewati semua ini. Aku helakan
nafasku panjang-panjang setelah aku berjuang mati-matian selama satu minggu
lalu. Kembali pada prinsip awalku! Aku telah berusaha sekuat tenaga, dan aku
telah berusaha memberikan yang terbaik untuk GP3, dan kini aku hanya bisa
bertawakal pada Allah mengenai hasil perlombaan tersebut. Setidaknya bebanku
telah hilang hehe
Hari mulai meredup , tak nampak lagi pancaran sinar
matahari. Waktu malam telah tiba di hadapan kami. Inilah detik-detik yang telah
dinanti-nati oleh para peserta lomba di ajang Unida Festival. Jam 7 kami semua
berkumpul di dalam ruangan kotak bernama auditorium. Di situlah muncullah
persatuan kami dari GP1 hingga GP5. Disinilah kami bertemu dengan teman-teman
lama kami dan mulai berkenalan satu sama lain. Malam ini bukan malam biasa, ini
malam yang luar biasa. Acara puncak Festival Unida ini dimeriahkan dengan
pemilihan ”Miss Campus 2018” yang
diwakili oleh mahasiswi2 semester 4 perwakilan dari setiap kampus.
Acara dimulai dari dialog interaktif para kandidat
miss campus.Dan diiringi pembagian hadiah perlombaan. Tak ada henti-hentinya
debaran hati ini mendengar pengumuman tersebut.Pemenang dibacakan berdasarkan
lomba per-olah. Dimulai dari olah dzikir dan diakhiri dengan olah-fikir.
Penantian yang cukup lama untuk mengetahui pemenang lomba pada bidang
olah-fikir. Sehingga membuatku makin pasrah dengan kenyataan ini. Tak lama
kemudian dibacakan pemenang lomba olah-fikir. Dan tak kusangka bahwasanya
namaku terlantunkan ketika itu. Berasa mimpi dan tak percaya dengan hal ini.
Ketika ini aku percaya bahwa proses tidak akan mengkhianati hasil. Keringat
yang telah kucucurkan, mata yang telah kupaksakan untuk terus terbuka di malam
hari, otak yang telah kupaksakan untuk berputar demi memunculkan ide-ide baru,
tak terbuang dengan sia.
Dari sinilah aku belajar dan banyak mendapatkan
pelajaran berharga yang belum pernah aku dapatkan sebelumnya. Aku mengerti
bahwa menulis karya tulis ilmiah bukan hal yang mudah tapi mengasyikkan. Aku
mengerti bagaimana menulis yang benar , bagaimana cara mempresentasikan hasil
KTI dengan baik, thanks for being my guidance Kak Hasna Nur Faza, yang selalu
merelakan waktunya demi memperbaiki tulisan-tulisanku.
Galeri~
Bersama peserta lomba menyanyi dari kontingen GP3
SAA 2 ON FESDA
Bersama Kak Hasna, thanks for being my guidance!
Bersama Kiri:Reza (arabic debate) , Kanan:Nadila (english debate)
On Presentation









mnatep
BalasHapus