Langsung ke konten utama

Implementasi Pendidikan Karakter Sebagai Fundamental De-radikalisasi Kaum Muda


Implementasi Pendidikan Karakter Sebagai Fundamental De-radikalisasi Kaum Muda

Naila Salma Nurkhalida_Fisipol 2018

            Pada saat ini, Indonesia telah mengalami kasus multidimensi, yangmana kasus tersebut berawal dari penyimpangan moral.[1] Sementara perkembangan kondisi bangsa dari masa ke masa dalam beberapa dekade terakhir memiliki perubahan yang cepat dan sejalan dengan menguatnya radikalisme di Indonesia. Hal ini dapat dilihat jelas dari banyaknya jumlah pemuda Indonesia yang ikut serta dalam aksi terorisme yang melanda Indonesia 13 tahun terakhir. Mulai dari teror bom bali I, bali II, hingga yang baru-baru ini terjadi di beberapa gereja di Surabaya[2]. Kejadian tersebut tentu tidak terlepas dari berbagai gerakan yang berakarkan pada paham radikal.

Secara Etimologi radikalisme berarti paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan.[3] Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia radikalisme memiliki tiga pengertian yaitu paham atau aliran yang radikal dalam politik, paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis, dan sikap ekstrem dalam aliran politik.[4] Sedangkan gerakan radikal adalah gerakan perubahan yang mengakar atau mendasar yang dilakukan oleh sekelompok orang yang ingin mengubah ideologi Negara.

Fenomena radikalisme di Indonesia hingga saat ini menjadi perbincangan yang sangat menarik dan terus hangat yang bercorak lintas-bangsa, lintas-budaya dan lintas-sejarah.[5] Radikalisme menjadi suatu permasalahan serius bagi banyak kalangan terutama kaum pemuda. Realitanya, pada beberapa tahun terakhir gerakan radikalisme sudah masuk ke dalam dunia pendidikan yang menghujam kalangan pemuda.[6] Semakin berkembangnya radikalisme di tengah masyarakat menjadi ancaman bagi tumbuh kembangnya jati diri generasi muda Indonesia dan melemahkan kesatuan bangsa. Gencarnya infiltrasi ideologi radikalisme dapat dicegah dengan menguatkan pendidikan karakter yang dapat dijadikan fundamental deradikalisasi[7] di Indonesia melalui program pendidikan karakter di sekolah maupun di kampus perkuliahan.[8]

Menurut Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter (Kemendikbud, 2011) pendidikan karaker merupakan pendidikan nilai, budi pekerti, moral, dan watak yang bertujuan untuk membentuk karakter bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan YME berdasarkan Pancasila.[9]

Menurut Ahmad Najib Azca  (2005:1) terdapat 3 faktor yang menyebabkan fenomena radikalisme di kalangan kaum muda. Pertama, dinamika sosial politik di fase awal transisi menuju demokrasi yang membuka struktur kesempatan politik. Kedua, transformasi gerakan radikal. Ketiga, tingginya angka pengangguran di kalangan pemuda Indonesia.[10] Ketiga faktor itulah yang menyebabkan radikalisme mendapat tempat yang subur di kalangan generasi muda. Kecenderungan sikap dan dirasa labil dimanfaatkan oleh kelompok faham radikal sebagai propaganda. Lain daripada itu kalangan kaum muda menjadi target utama dikarenakan adanya semangat patriotik pada diri anak muda yang beresiko disalahgunakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

            Pakar pendidikan Prof. Arief Rachman (2011:160) berpendapat bahwa penanaman nilai karakter harus terus diberikan kepada pelajar dan mahasiswa sejak dini untuk membentengi diri dari ancaman radikalisme dan ideologi asing yang ingin merusak generasi bangsa.[11] Dengan adanya karakter, mereka mampu menyaring mana yang baik dan buruk, salah dan benar, serta mana yang bermanfaat maupun tidak. Namun realita di lapangan menunjukkan adanya krisis karakter yang melanda bangsa ini. Sehingga perlu adanya upaya dalam meningkatkan karakter bangsa dengan memasukkan nilai-nilai karakter di dalam kurikulum pendidikan, karena kurikulum adalah sarana yang tepat untuk mengimplementasikan pendidikan karakter.[12] Dengan mengimplikasikan pendidikan karakter secara sistematis dan berkelanjutan, akan melahirkan anak bangsa yang cerdas emosinya. Kecerdasan emosi inilah yang menjadi bekal penting menyongsong masa depan bangsa yang cerah dengan menghapuskan paham radikal di Indonesia.



[1]Aji Bagus,” Implementasi Pendidikan Karakter Semangat Kebangsaan dan Cinta Tanah Air Pada Sekolah  Berlatar Belakang Islam Di Kota Pasuruan”, Jurnal Sains Psikologi, Jilid 6. No.1, Maret 2017, hlm. 9
[2] Arfianto Purbolaksono,” Bom Tamrin dan Radikalisme di Indonesia”, Jurnal Update Indonesia, Vol. X No.2 Januari 2016, hlm.6
[3] A.S.Hornby, Oxford Advenced, Dictionary of current English (UK: Oxford university press, 2000), 691.
[4] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1990 ), 354.
[5] Ahmad Asrori, “Radikalisme di Indonesia”, Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam, Vol. 9 No. 2. Desember 2015, hlm. 7
[6] Imam Fauzi G,” Radikalisme Pendidikan”, Jurnal Agama dan Lintas Budaya, Vol. 1 No. 2. Maret 2017, hlm.123
[7] Deradikalisasi mengacu pada tindakan preventif kontraterorisme atau stratregi untuk menetralisir paham-paham yang dianggap radikal dan membahayakan dengan cara pendekatan tanpa kekerasan.
[8] Ibid., hlm.124
[9] Kemdikbud. 2011. Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter. (Jakarta:  Kementrian Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum dan Perbukuan)
[10] Agus Sb, Darurat Terorisme, Kebijakan Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi (Jakarta: Daulat Press, 2014)
[11] Anik Ghufron, “Integrasi Nilai-Nilai Karakter Bangsa pada Kegiatan Pembelajaran”, Jurnal Edidi Khusus Dies Natalis UNY, Vol. 1 No. 3 (Mei 2015), hlm. 7
[12] Ibid. ,hlm. 124


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Survival's Song : 90 Langkah

Lyric Lagu 90 Langkah Gontor Kabut membelai lembut kampung damai Cahaya sang surya menghangatkan Para khalifah muda yang akan mengukir Pendidikan yang terbaik untuk dunia Tiada tersadar hati Telah jauh langkah kaki menapak 90   langkah penuh perjuangan Keikhlasan kesederhanaan dan keteguhan

Lembayung Senja

Lembayung Senja Oleh: Naila Salma Nurkhalida Lambaian lembayung senja ramaikan keindahan laut Bergumam dalam sunyi tanyakan hati yang  lama terpaut Aku tak bisa pahami hati yang bergejolak  memarah Mengajakku bertepian dengan hati lain tanpa arah Inikah cinta? Kurasakan hati berlabuh dalam rasa Lambat laun menyapa dalam nyata Mengetuk bilik jantung dengan paksa Terengah diri ini menelisik makna kata demi kata Gelisah hati yang lama menepis rindu tanpa tahu kepada siapa hati harus merindu Ingin ku lontarkan serpihan hati bersamanya sebuah fetamorgana cinta tanpa sendu Namun hati yang lemah ini tak mampu beradu-padu Ku tanyakan pada jemari kecil yang senantiasa mengadah padaNya seraya mengadu Senja... Dimana singgahmu menghibur diri? Pencarianku akan sesosok bayangmu terluap pada ilusi dalam mimpi Pintaku tentang rasa yang berujung tak pasti pada Ilahi Harapku akan sebuah kebenaran haqiqi Teruntuk siapa berlabuhnya hati ini Semarang, 21 Januari 2019

Dunia Tak Seindah Bayangannya

Engkau telah lupa Bahwa kakimu masih menginjakkan dunia Kemudian meminta segalanya Padahal, dunia hanyalah alam fana