Langsung ke konten utama

“Aku” adalah Siapa Temanku


“Jika ingin tahu diriku, jangan tanya diriku. Tanya dan lihatlah temanku!”
Sebuah hakikat yang pasti bahwasanya manusia merupakan makhluk sosial. Hal ini sudah tidak bisa dipungkiri lagi bagi kami para mahasiswa yang konon kehidupan mahasiswa adalah kehidupan yang mempunyai tingkat kebebesan yang lebih besar dibanding anak sekolah di bangku SMA,SMP dan sebagainya. Sehingga tingkat kebebasan yang besar pula ini terkadang membawa pengaruh yang besar bagi diri kita, baik pengaruh positif maupun sebaliknya pengaruh negatif. Pengaruh-pengaruh tersebut yang akan mengubah dunia kita pada dua pilihan, yaitu akankah kita berada di jalan yang benar atau di jalan yang sesat?
Bergaul ataupun bersosialisasi dengan sesama itu penting. Namun, pada usia seperti ini dimana seorang pemuda butuh sesosok teman yang dirasa dekat bahkan nyaman terkadang lupa akan hakikat memilih teman.

Abu Darda’ berkata,
Di antara bentuk kecerdasan seseorang adalah selektif dalam memilih teman berjalan, teman bersama, dan teman duduknya.”

Teman memiliki definisi yang sangat luas. Tidak hanya sebatas tempat untuk curhat, ataupun tempat untuk bersenang-senang saja. Bahkan teman membawa pengaruh besar terhadap pola pikir, watak, perilaku, hingga kebiasaan sehari-hari. Jika teman kita baik, tentu saja kita akan ikut menjadi pribadi yang baik bahkan lebih baik lagi. Begitu pula sebaliknya, apabila kita berteman dengan mereka yang kesehariannya menghabiskan waktu untuk berhura-hura, maka tidak diragukan lagi bahwa kita akan sama sepertinya.  Sehingga mucullah suatu kesimpulan bahwa karakter seorang pemuda akan terbentuk sesuai dengan lingkungan pergaulannya. Oleh karena itu mengapa kita itu seperti siapa teman kita.

Pepatah Arab mengatakan,
“Anli mar’i la tas’al, was’al an qoriinihi fainna qoriina bil muqorini yaqtadi. Jika ingin tahu seseorang, jangan tanya dirinya, tetapi tanyalah temannya dan keadaan temannya.”

Lalu bagaimana dengan keberadaan kita apabila kita hamba yang selalu ingin menjadi pribadi yang baik, namun kini berada diantara mereka yang berperingai buruk? Sedikit-sedikit bawa agama dibilang lugu, katanya sok alim. Betapa lucunya zaman ini. Namun selama ada kemampuan untuk menghadapi mereka dan memberikan hidayah kepada mereka, jangan pernah lelah untuk berhenti membawa mereka pada kebaikan. Karena setiap umat Islam diperintahkan berdakwah terhadap mereka. Tetapi jika tidak punya kemampuan yang lebih sehingga mudah tergoyahkan,alangkah lebih baiknya kita perkuat diri sendiri dengan meninggalkan mereka sebelum kita menyesal karena telah terjerumus bersamanya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al Furqan ayat 27-29 :

Allah swt berfirman:
“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul". Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong”. (Q.S. Al-Furqan : 27-29)

Bait:

Ketika pertemanan tak lagi membawa manfaat
Sudah bukan saatnya jiwa bertahan
Mungkin maksud hati baik, membawanya untuk memikirkan akhirat
Tapi apa daya hati yang lemah, seolah tak bisa melawan

Biarkan saja celotehan berbisik di telingamu
Seolah katakan kau ini bocah lugu
Negeri ini memang lucu
Orang baik malah terbelenggu

Maka berhati-hatilah dalam bergaul
Karena bergaul bukan hanya tentang berteman dengan mereka yang gaul
Untuk apa berteman dengan orang gaul hanya karena ingin popular
Lebih baik berteman dengan si lugu tapi dengan Rabb-Nya tak pernah ingkar.

Ingat..
Usia muda merupakan usia yang produktif
Yang demikian, patut menjadi pemuda yang selektif
Usia muda nerupakan wadah untuk berprestasi meraih mimpi
Jangan sampai terbengkalai dengan mereka yang berhedonisasi
Allah terus, Allah dulu, Allah lagi






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Survival's Song : 90 Langkah

Lyric Lagu 90 Langkah Gontor Kabut membelai lembut kampung damai Cahaya sang surya menghangatkan Para khalifah muda yang akan mengukir Pendidikan yang terbaik untuk dunia Tiada tersadar hati Telah jauh langkah kaki menapak 90   langkah penuh perjuangan Keikhlasan kesederhanaan dan keteguhan

Lembayung Senja

Lembayung Senja Oleh: Naila Salma Nurkhalida Lambaian lembayung senja ramaikan keindahan laut Bergumam dalam sunyi tanyakan hati yang  lama terpaut Aku tak bisa pahami hati yang bergejolak  memarah Mengajakku bertepian dengan hati lain tanpa arah Inikah cinta? Kurasakan hati berlabuh dalam rasa Lambat laun menyapa dalam nyata Mengetuk bilik jantung dengan paksa Terengah diri ini menelisik makna kata demi kata Gelisah hati yang lama menepis rindu tanpa tahu kepada siapa hati harus merindu Ingin ku lontarkan serpihan hati bersamanya sebuah fetamorgana cinta tanpa sendu Namun hati yang lemah ini tak mampu beradu-padu Ku tanyakan pada jemari kecil yang senantiasa mengadah padaNya seraya mengadu Senja... Dimana singgahmu menghibur diri? Pencarianku akan sesosok bayangmu terluap pada ilusi dalam mimpi Pintaku tentang rasa yang berujung tak pasti pada Ilahi Harapku akan sebuah kebenaran haqiqi Teruntuk siapa berlabuhnya hati ini Semarang, 21 Januari 2019

Dunia Tak Seindah Bayangannya

Engkau telah lupa Bahwa kakimu masih menginjakkan dunia Kemudian meminta segalanya Padahal, dunia hanyalah alam fana