Langsung ke konten utama

Stigma Lisan dalam Gender



“Judul ini menjadi suatu misteri pertanyaan yang harus dan layak di jawab agar tidak ada lagi kekeliruan dalam berbuat diantara kita para pencari surga Allah SWT, menjadi suatu penegasan bagi kita akan pentingnya bertutur kata halus bagi seluruh umat islam tidak melulu perempuan! Dan seharusnya kita sadar akan hal ini, namun banyak diantara mereka yang hatinya tak lagi bergetar dan sengaja luput akan rasa sadar.”

Realita buruk yang sedang marak kita dapatkan di dunia nyata maupun di dunia maya saat ini, dimana banyak sekali orang yang bertutur kata kasar, kotor, jorok, menghujat, mencaci-maki, dan sebagainya. Bahkan di era yang serba digital ini, tidak di pungkiri penggunaan sosial media yang sangat di gemari generasi milenial justru disalahgunakan.
Kebebasan beraspirasi terwujudkan namun nilai moral bangsa terlunturkan. Media sosial bukan lagi menjadi tempat pikiran kita ter-asah, namun bak sampah. Banyak sekali komentar-komentar kasar yang membanjiri jejaring sosial secara liar.
Tentu saja ini menjadi fenomena yang sangat memprihatinkan baik bagi negara maupun agama. Banyaknya komentar kasar, jorok, keji, mengumpan, mencela dan sebagainya itu juga menunjukkan kualitas "jati diri" bangsa Indonesia yang konon ramah dan santun. Sehingga memunculkan keraguan, benarkah bangsa Indonesia ramah? Tapi mengapa banyak sekali komentar liar seolah-olah mereka tidak berpendidikan dan "tidak beradab"?
Ditambah dengan munculnya sebuah permasalahan yang sedikit tabu di tengah polemik kehidupan, dimana paradigma akan perkataan kasar tidak boleh dilakukan oleh kaum hawa. Sehingga menjadi hal yang aneh ketika keluar tutur kata kasar dari lisan kaum hawa namun menjadi hal yang biasa saja apabila kejadian yang sama itu terjadi pada diri kaum adam. Munculnya pernyataan seperti ini juga menimbulkan ribuan kritikus baik di dunia nyata maupun maya.
Perlunya pemahaman analitik mengenai lisan bagi kita untuk menemukan jawaban akan permasalahan yang muncul mengenai lisan. Lisan merupakan salah satu nikmat yang besar, bentuknya kecil dan halus namun disitulah terletak suatu kebaikan dan keburukan seseorang. Kehidupan seorang muslim sangat dipengaruhi oleh bagaimana cara menjaga lisannya. Apakah akan menuai dampak positif atau sebaliknya yaitu berdampak negatif.
Dalam Alquran dan sunnah, Allah SWT memberikan petunjuk kepada Rasulullah untuk menyiarkan ajaran Islam. Dimana ajarannya mencakup segala aspek kehidupan seorang muslim, termasuk dalam hal berbicara atau berkata-kata. Kaum Muslim dididik dengan ajaran agama rahmatan lil’alamin (menebar kasih sayang terhadap sesama) dan mengutamakan akhlak mulia (akhlaqul karimah).
Dalam perjalanan dakwahnya, Rasulullah SAW telah memberikan contoh kepada kita mengenai adab berbicara yang baik. Kepiawaiannya dalam bertutur kata hingga menjadikan masing-masing lawan bicara Rasulullah merasa bahwa beliaulah yang patut di muliakan.  Dalam berbicara dengan lawan bicara, kita harus menggunakan tata karma dan tutur kata yang baik. 
Rasulullah SAW bersabda,
لَيْسَ اْلمـُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَ لَا اللَّعَّانِ وَ لَا اْلفَاحِشِ وَ لَا اْلبَذِيِّ

            “Bukanlah seorang mukmin orang yang suka mencela, orang yang gemar melaknat, orang yang suka berbuat atau berkata-kata keji, dan orang yang berkata-kata kotor atau jorok” (HR Bukhori, Ahmad, Al-Hakim, dan Tirmudziy dari Ibnu Mas'ud).
Hadits shahih tersebut menegaskan akan jati diri dan perangai mulia kaum mukmin sejati. Karena pada hakikatnya muslim yang baik tidak akan berkata kasar dan kotor, termasuk dalam berkomentar di media sosial.
Dalam sebuah hadist lain yang berkaitan dengan menjaga lisan, yang diriwayatkan oleh Tirmidzi,
“Uqbah bin Amir berkata : Aku pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah apakah keselamatan itu?” beliau menjawab, “tahanlah lisanmu dan hendaknya rumahmu menyenangkanmu (karena penuh dzikir dan mengingat Allah SWT) dan menangislah atas kesalahnmu (karena menyesal).” HR.Tirmidzi
Sehingga berhati-hatilah terhadap lisan karena sebuah ucapan bisa menjerumuskan kita ke dalam api neraka. Seperti nasihat Rasulullah SAW yang sangat berharga dalam hal menjaga lisan dan menjadi tuntunan kita sebagai mana hadis yang berbunyi,
“Barang siapa yang berfirman kepada Allah dan hari akhir hendaknya berkata baik atau diam.”
Jadi apabila kita tidak mengetahui sebuah perkara dengan pasti, lebih baik kita diam. Dan janganlah kita mengucapkan perkataan yang menyakiti hati orang lain, sekalipun itu hanya candaan. Sebab di akhirat kelak, segala apa yang kita ucapkan dengan lisan akan dimintai pertanggungjawaban.
Allah berfirman :
“Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Q.S Qaf: 18)
Terjawablah sudah sebuah jawaban akan permasalahan yang muncul di era ini. Dimana tidak ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki akan larangan bertutur kata kasar. Keduanya memiliki kewajiban yang sama untuk menjaga lisan. Karena menjaga lisan merupakan suatu perangai mulia mukmin sejati, baik laki maupun perempuan. Ini yang seharusnya menjadi renungan bagi kita semua, bukan menjadikan alasan karena wanita dilahirkan dengan fitrahnya berupa kelembutan menjadikan hanya wanita saja yang harus menjaga lisan.
Dan ketahuilah bahwa berbicara yang baik-baik itu akan mendatangkan manfaat dan kemaslahatan, sedangkan bicara yang buruk hanyalah berbuah kesia-siaan. Maka, jauhkanlah lisan kita dari setiap perkataan yang sia-sia. Perbanyak zikir di setiap waktu dan semoga kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang mukmin sejati. Aamiin Allahumma Aamiin. (Nays)





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Survival's Song : 90 Langkah

Lyric Lagu 90 Langkah Gontor Kabut membelai lembut kampung damai Cahaya sang surya menghangatkan Para khalifah muda yang akan mengukir Pendidikan yang terbaik untuk dunia Tiada tersadar hati Telah jauh langkah kaki menapak 90   langkah penuh perjuangan Keikhlasan kesederhanaan dan keteguhan

Lembayung Senja

Lembayung Senja Oleh: Naila Salma Nurkhalida Lambaian lembayung senja ramaikan keindahan laut Bergumam dalam sunyi tanyakan hati yang  lama terpaut Aku tak bisa pahami hati yang bergejolak  memarah Mengajakku bertepian dengan hati lain tanpa arah Inikah cinta? Kurasakan hati berlabuh dalam rasa Lambat laun menyapa dalam nyata Mengetuk bilik jantung dengan paksa Terengah diri ini menelisik makna kata demi kata Gelisah hati yang lama menepis rindu tanpa tahu kepada siapa hati harus merindu Ingin ku lontarkan serpihan hati bersamanya sebuah fetamorgana cinta tanpa sendu Namun hati yang lemah ini tak mampu beradu-padu Ku tanyakan pada jemari kecil yang senantiasa mengadah padaNya seraya mengadu Senja... Dimana singgahmu menghibur diri? Pencarianku akan sesosok bayangmu terluap pada ilusi dalam mimpi Pintaku tentang rasa yang berujung tak pasti pada Ilahi Harapku akan sebuah kebenaran haqiqi Teruntuk siapa berlabuhnya hati ini Semarang, 21 Januari 2019

Dunia Tak Seindah Bayangannya

Engkau telah lupa Bahwa kakimu masih menginjakkan dunia Kemudian meminta segalanya Padahal, dunia hanyalah alam fana