⠀
*Bait tentang kami yang pernah bermimpi pada satu atap medan juang yang sama, Gontor, Ibu kandung kami, dan masih bermimpi di pijakan yang sama, Indonesia, tanah air kami.*⠀
⠀
Dalam suatu mimpi pada satu ilusi tabu. Kami pernah bercerita tentang mimpi yang saling beradu padu. ⠀
Setiap kaki melangkah, hati ini saling bersapa dalam harapan penuh abu.⠀
⠀
Kala itu, ingin hati merangkai mimpi. ⠀
Menelusuri isyarat yang ingin terpenuhi.⠀
Naluri yang tergoreskan untuk sebuah ilusi,⠀
Sesegera mengakhiri untuk memulai hal baru dengan tujuan pasti. ⠀
⠀
Ya! Kami pernah bermimpi pada satu ilusi yang sama.⠀
Sama sama ingin mengangkat kaki dari tempat yang sama menuju arah yang sama. Bersama sama menyebarkan keharuman medan perjuangan lama,⠀
Di ujung belahan dunia sana. ⠀
⠀
Nyatanya, hanya kala itu. ⠀
Rupanya, hanya sekedar ilusi mimpi yang tabu. ⠀
⠀
Hingga akhirnya kami bertukar isak tangis dan haru. ⠀
Meratapi ilusi-ilusi semu. ⠀
⠀
Ini bukan yang terakhir dari cerita kami. ⠀
⠀
Impian ini bukan sekedar ilusi tabu.⠀
Impian ini tak akan terpatahkan.⠀
Kami masih bersama membalikkan retakan-retakan mimpi itu, ⠀
meski ruang tak menyatukan. ⠀
⠀
Bukan dengan cara itu lagi! ⠀
Tapi dengan cara kami saat ini. ⠀
Semoga Allah meridhoi. ⠀
⠀
Yogyakarta, 9 april 2019. ⠀
⠀
⠀
⠀
⠀
⠀
⠀
⠀
⠀
⠀
⠀
⠀
⠀
⠀
⠀
⠀

Komentar
Posting Komentar