Langsung ke konten utama

Dilematika Ilusi Mimpi



*Bait tentang kami yang pernah bermimpi pada satu atap medan juang yang sama, Gontor, Ibu kandung kami, dan masih bermimpi di pijakan yang sama, Indonesia, tanah air kami.*⠀

Dalam suatu mimpi pada satu ilusi tabu. Kami pernah bercerita tentang mimpi yang saling beradu padu. ⠀
Setiap kaki melangkah, hati ini saling bersapa dalam harapan penuh abu.⠀

Kala itu, ingin hati merangkai mimpi. ⠀
Menelusuri isyarat yang ingin terpenuhi.⠀
Naluri yang tergoreskan untuk sebuah ilusi,⠀
Sesegera mengakhiri untuk memulai hal baru dengan tujuan pasti. ⠀

Ya! Kami pernah bermimpi pada satu ilusi yang sama.⠀
Sama sama ingin mengangkat kaki dari tempat yang sama menuju arah yang sama. Bersama sama menyebarkan keharuman medan perjuangan lama,⠀
Di ujung belahan dunia sana. ⠀

Nyatanya, hanya kala itu. ⠀
Rupanya, hanya sekedar ilusi mimpi yang tabu. ⠀

Hingga akhirnya kami bertukar isak tangis dan haru. ⠀
Meratapi ilusi-ilusi semu. ⠀

Ini bukan yang terakhir dari cerita kami. ⠀

Impian ini bukan sekedar ilusi tabu.⠀
Impian ini tak akan terpatahkan.⠀
Kami masih bersama membalikkan retakan-retakan mimpi itu, ⠀
meski ruang tak menyatukan. ⠀

Bukan dengan cara itu lagi! ⠀
Tapi dengan cara kami saat ini. ⠀
Semoga Allah meridhoi. ⠀

Yogyakarta, 9 april 2019. ⠀
















Komentar

Postingan populer dari blog ini

Survival's Song : 90 Langkah

Lyric Lagu 90 Langkah Gontor Kabut membelai lembut kampung damai Cahaya sang surya menghangatkan Para khalifah muda yang akan mengukir Pendidikan yang terbaik untuk dunia Tiada tersadar hati Telah jauh langkah kaki menapak 90   langkah penuh perjuangan Keikhlasan kesederhanaan dan keteguhan

Lembayung Senja

Lembayung Senja Oleh: Naila Salma Nurkhalida Lambaian lembayung senja ramaikan keindahan laut Bergumam dalam sunyi tanyakan hati yang  lama terpaut Aku tak bisa pahami hati yang bergejolak  memarah Mengajakku bertepian dengan hati lain tanpa arah Inikah cinta? Kurasakan hati berlabuh dalam rasa Lambat laun menyapa dalam nyata Mengetuk bilik jantung dengan paksa Terengah diri ini menelisik makna kata demi kata Gelisah hati yang lama menepis rindu tanpa tahu kepada siapa hati harus merindu Ingin ku lontarkan serpihan hati bersamanya sebuah fetamorgana cinta tanpa sendu Namun hati yang lemah ini tak mampu beradu-padu Ku tanyakan pada jemari kecil yang senantiasa mengadah padaNya seraya mengadu Senja... Dimana singgahmu menghibur diri? Pencarianku akan sesosok bayangmu terluap pada ilusi dalam mimpi Pintaku tentang rasa yang berujung tak pasti pada Ilahi Harapku akan sebuah kebenaran haqiqi Teruntuk siapa berlabuhnya hati ini Semarang, 21 Januari 2019

Dunia Tak Seindah Bayangannya

Engkau telah lupa Bahwa kakimu masih menginjakkan dunia Kemudian meminta segalanya Padahal, dunia hanyalah alam fana