Langsung ke konten utama

Towards Better Education Quality, The Discipline of Teaching Preparation is Needed



“Gitu banget sih mau presentasi doang sampe dicatet, diapalin” begitulah kurang lebihnya yang sering diutarakan teman-teman seperkuliahan ketika melihat saya akan presentasi.

Bagi mayoritas mahasiswa, presentasi hanya sebatas maju ke depan kelas dan membacakan materi yang terpapar dalam slide. Namun bagi saya, pecahan telur yang sekian lama didadar dari sebuah lembaga pendidikan yang berorientasi melahirkan murid berjiwa guru, presentasi di depan kelas ibarat kita sedang berperan menjadi seorang mudarris atau guru sehingga ruuhul mudarris harus dihadirkan di dalamnya atau berjiwa guru. Bagaimana suatu ilmu pengetahuan itu dapat tersampaikan dari hati ke hati. Meskipun beberapa dosen tidak menilai kelas presentasi tapi tetap saja segala sesuatu harus dipersiapkan dengan baik.

Beranjak dari pernyataan singkat diatas, menggugah diri saya untuk berbincang persoalan sistem pendidikan dengan menuliskan suatu profil lembaga pendidikan yang kental dengan disiplin sistem pendidikan, salah satunya soal-menyoal kewajiban membuat i’dad atau persiapan.

Mungkin terdengar aneh ketika kita harus membuang tenaga untuk melakukan persiapan-persiapan yang terlihat remeh. Eitsss jangan salah..

Persiapan itu sangat penting dalam semua pekerjaan. Pentingnya persiapan ibarat seorang musafir yang mau mengadakan perjalanan, tentunya ia harus mempersiapkan bekal terlebih dahulu. Jika tidak, bisa saja ia kehilangan kesempatan untuk sampai ke tempat tujuan.

Man ‘arafa bu’da as-safari, ista’adda.”

Yang berarti, orang yang menyadari betapa jauhnya perjalanan yang ditempuh, tentu ia bersiap-siap terlebih dahulu. Jika seorang musafir sampai kehabisan bekal di tengah perjalanan, sedangkan ketika itu ia berada di padang pasir nan tandus tanpa air minum dan makanan sedikit pun, serta jauh dari pemukiman, maka ia akan kehilangan tenaga, tak berdaya, dan akhirnya harus berpisah dengan dunia.

Zaman dahulu, Prof. Dr. Hamka dalam kongres kebudayaan tahun 1951 di Solo, beliau berpidato tentang sejarah. Beliau sangat hafal kejadian-kejadian beserta tahun-tahunnnya. Hingga para hadiri terkagum olehnya. Bahkan orang orientalispun mengaguminya. Pada suatu ketika ada yang bertanya padanya “Yang kami kagumi hafalnya tahun-tahun itu.” Lantas pak Hamka menjawab, “bagaimana tidak, kan dihafalkan lebih dulu.”

Dr. Moh Yamin juga demikian dalam menguraikan filsafat negara, membuat orang-orang begitu terkagum. Akhirnya diketahui bahwa bahan-bahan itu diambil dari satu buku berbahasa Jerman yang telah beliau siapkan dengan I’dad secara matang.

Selain itu seorang ahli bahasa Arab, Dr. Ali Fahmi Al-Amrusyi, ketika itu ia akan berkunjung ke Gontor untuk berpidato. Kemudian beliau mumulai untuk menulis I’dadnya di Jakarta. Setelah sampai di Sarangan, ia terus membaca I’dadnya berulang-ulang. Bahkan sesampainya di Gontor beliau masih terus membaca I’dadnya. Padahal beliau seorang doktor bahasa Arab dari Mesir, seorang ahli, tapi masih juga membaca I’dad.

Begitupula kejadian pada tahun 1957, ketika Pak Zarkasyi pendiri Gontor berkunjung ke Mesir, beliau bertemu dengan para menteri dan diantar oleh staf kedutaan. Karena kelihaiannya dalam bercakap-cakap dengan para menteri dalam bahasa Arab, ketika kembali, ia ditanya saat sedang berada di dalam mobil, “Dimana dan kapan ustadz belajar bahasa Arab?”, lalu beliau menjawab, “Tidak jauh, di Indonesia saja.” Tetapi dalam batin beliau bergumam, “Saya belajar di depan santri alias dengan cara mengajar, menjadi guru di Gontor berpuluh tahun dengan i’dad sebaik-baiknya, sesempurna-sempurnanya.”

Kekuatan I’dad itulah yang diakui oleh seorang Pak Zar, tanpa gelar profesor, telah menjadi profesor di bidang bahasa Arab. Bahkan, hal ini diakui oleh para pakar di bidang bahasa Arab. Padahal, K.H. Imam Zarkasyi tidak pernah sekalipun belajar ke luar negeri. Beliau hanya belajar bahasa Arab di Indonesia. Hanya saja, Pak Zar telah bertahun-tahun mengajar dengan persiapan yang matang. Sama halnya dengan pemuka masyarakat hebat lainnya.

Kebiasaan seperti itu tidak terluntur sedikitpun dalam peng-implementasiannya di salah satu lembaga persemaian guru-guru yang dapat kita temui di Jawa Timur. Sistemnya dibuat sebagaimana sebuah lembaga pendidikan yang sedang mendidik calon pendidik. Ta’liimu muta’allim serta adabu ta’liim diajarkan sejak dini dan di praktikkan di berbagai kegiatan seperti, praktik pidato, kelas bahasa pagi hari, pembina pramuka, mengajar di kelas sore, serta menjadi penguji ujian pelajaran sore. Semua itu lagi-lagi harus lengkap dengan I’dad dalam genggaman tangannya. Para murid dididik untuk selalu membuat i’dad sebelum melakukan apa saja, tidak lain untuk membekali diri dengan segala persiapan yang dibutuhkan agar meraih hasil maksimal.

Pada puncaknya, sebelum terjun ke masyarakat, tiap murid harus melewati ujian tarbiyah ‘amaliyah atau ujian praktik mengajar. Dimana murid wajib membuat i’dad yang setiap kata, setiap kalimat, setiap pertanyaan, setiap istilah yang diucapkan, harus dipersiapkan dan ditulis dalam buku i’dad. Dan semuanya harus benar tidak boleh salah.

Bagi seorang anak setara dengan kelas 3 SMA, mempraktikkan kegiatan ini tentu bukan hal yang mudah. Berbeda dengan ujian-ujian praktik pada umumnya, kegiatan ini seharusnya dilakukan oleh mahasiswa jurusan keguruan bukan siswa setingkat SMA. Bisa dibilang belum cukup umur, tetapi sudah berani diajarkan.

Perjuangan mereka dimulai dari pembuatan I’dad atau bahan ajar yang tidak mudah. Penulisan I’dad harus menggunakan bahasa Arab untuk pelajaran agama serta bahasa Inggris untuk pelajaran reading ataupun grammar dengan tulisan tangan. 

Penulisan i'dad pun dapat dilakukan setelah melalui tahap konsultasi kepada pembimbing atau musyrif/musyrifah agar tidak terjadi kekeliruan dalam pemahaman materi yang akan disampaikan nantinya. Sehingga silsilatul ‘ilmi tetap terjalin adanya sebagaimana pada zaman Nabi dan ulama-ulama terdahulu.

Uniknya, untuk dapat mengikuti ujian praktik mengajar, i’dad harus dengan persetujuan pembimbing, pimpinan lembaga, serta pimpinan bagian pengajaran. Dengan bubuhan tanda tangannya, menandakan bahwa i’dad tersebut telah melalui prosedur yang baik dan dianggap tidak lagi ada kesalahan dalam penulisannya. Apabila masih ada kesalahan, maka dengan segan i’dad tersebut akan dikembalikan bahkan beberapa ada yang harus mengulanginya dari awal untuk diperbaiki. Sedemikian pentingnya sebuah i’dad bagi seorang pendidik sehingga harus digarap dengan sempurna.

Setelah i’dad sempurna, seorang murid baru diperbolehkan melalukan ujian praktik mengajar. Ujian mengajarnyapun belum pernah saya temui di lembaga pendidikan lain. Belum pernah saya temukan seorang guru mengajar di depan kelas dan di evaluasi oleh lebih dari 10 guru-guru lainnya beserta penguji khusus. Begitulah prosedural yang dijalankan lembaga ini saat ujian praktik mengajar berlangsung. Yang diuji harus berhadapan dengan kurang lebih 10-15 peserta ujian lainnya yang berdiri tegap mengelilingi kelas serta 2 pembimbing sekaligus sebagai penguji. Untuk apa? Tentu untuk mengoreksi pengajar dengan menuliskan kritik-kritik serta kekurangan dalam praktik mengajar yang nantinya hasil koreksi tersebut di diskusikan bersama di bawah naungan pembimbing untuk dijadikan pelajaran baru yang dapat diambil hikmahnya demi melahirkan guru-guru berkualitas dan bermutu untuk ummat.

Inilah mengapa diantara rentetan ujian-ujian yang ada di lembaga ini, ujian praktik mengajar adalah salah satu ujian paling menegangkan dibandingkan dengan ujian-ujian setelahnya yaitu ujian lisan maupun ujian tulis. Karena tidak hanya pikiran yang diuji, tapi jiwa, dan mental menyertai.



I'dad Ujian Praktik Mengajar

Dengan sistem ujian praktik mengajar yang sedemikian rupa, mampu melahirkan guru-guru yang terbiasa mempersiapkan segala sesuatu dengan baik. Hal itu dapat dirasakan dampaknya hingga detik ini di lembaga tersebut, bagaimana mekanisme seorang guru dari sebelum mengajar hingga setelahnya.

Fenomena yang kita jumpai disana, bahwa seorang guru tidak diperkenankan mengajar sebelum menyelesaikan i’dad. Ketika ada seorang guru yang mengajar di kelas akan tetapi i’dadnya belum terbubuhi tanda-tangan pengoreksi i’dad, maka guru tersebut akan terkena “tilang i’dad”. Artinya, pengajar yang kedapatan tidak membuat persiapan yang baik, akan ditilang dengan dicatat identitasnya oleh seorang guru yang bertugas sebagai evaluator ketika kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung. Bahkan ketika seorang guru, tidak menggunakan pengantar bahasa Arab ataupun bahasa Inggris ketika mengajar, maka akan dicatat pula identitasnya karena dianggap tidak mempersiapkan bahan ajar dengan baik, yang nantinya akan diberi hukuman bagi pengajar yang kurang disiplin tersebut.


I'dad Guru

Disinilah dapat kita pahami bahwa setiap pengajar harus mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh dalam mengajar, karena disiplin persiapan mengajar yang diterapkan di lembaga ini sangat ketat. 

 “Kalau mengajar itu dengan cara yang baik, dengan i’dad yang betul, gurunya di muka kelas selalu berbesar hati, tidak nguncis di depan murid. Maka, muridnya akan menjadi asyik, tambah ingin tahu, tambah cinta kepada ilmu.” Pesan seorang pendiri lembaga ini.

Dan andaikata sistem ini diberlakukan di setiap lembaga pendidikan di Indonesia, dimana pendidik diberi wadah untuk konsultasi materi kepada para ahli tiap bidang ilmu sebagai referensi bahan ajar, pendidik harus menulis rangkuman materi sebaik-baiknya, yang kemudian wajib dikoreksi oleh pimpinan sekolah atau yang berkewajiban setiap akan masuk ruang kelas tentu akan memberikan hasil pengajaran yang optimal. Sehingga untuk mengukur hasil persiapan, juga diperlukan peran evaluator yang rutin mengawasi kelas-kelas yang sedang belangsung KBM. Yang kemudian diadakan evaluasi rutin para pendidik tiap minggunya sebagai hasil koreksi dari evaluator yang bertugas.

Dengan memperkuat disiplin persiapan, maka doktrin “jiwa guru” akan mengakar kuat di setiap sanubari pendidik di Indonesia. Dan akan sulit bagi seorang pendidik untuk mendidik asal-asalan, tidak mood, apalagi tidak bertanggung jawab sampai mengosongkan ruang kelas tanpa kepastian yang jelas. Sehingga tidak akan ada lagi label pendidik yang memakan gaji buta. 

Disiplin persiapan mengajar akan membentuk karakter seorang pendidik. Pendidik yang berkarakter akan melahirkan anak didik yang berkarakter pula. Ketika pendidik yang berkarakter dan anak didik yang berkarakter saling bersinergi, pendidikan di Indonesia tidak lagi diragukan dan tidak perlu lagi dicemaskan.

So, towards better education quality in our beloved motherland, Indonesia, the discipline of teaching preparation is needed. Fight for Education J


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Survival's Song : 90 Langkah

Lyric Lagu 90 Langkah Gontor Kabut membelai lembut kampung damai Cahaya sang surya menghangatkan Para khalifah muda yang akan mengukir Pendidikan yang terbaik untuk dunia Tiada tersadar hati Telah jauh langkah kaki menapak 90   langkah penuh perjuangan Keikhlasan kesederhanaan dan keteguhan

Lembayung Senja

Lembayung Senja Oleh: Naila Salma Nurkhalida Lambaian lembayung senja ramaikan keindahan laut Bergumam dalam sunyi tanyakan hati yang  lama terpaut Aku tak bisa pahami hati yang bergejolak  memarah Mengajakku bertepian dengan hati lain tanpa arah Inikah cinta? Kurasakan hati berlabuh dalam rasa Lambat laun menyapa dalam nyata Mengetuk bilik jantung dengan paksa Terengah diri ini menelisik makna kata demi kata Gelisah hati yang lama menepis rindu tanpa tahu kepada siapa hati harus merindu Ingin ku lontarkan serpihan hati bersamanya sebuah fetamorgana cinta tanpa sendu Namun hati yang lemah ini tak mampu beradu-padu Ku tanyakan pada jemari kecil yang senantiasa mengadah padaNya seraya mengadu Senja... Dimana singgahmu menghibur diri? Pencarianku akan sesosok bayangmu terluap pada ilusi dalam mimpi Pintaku tentang rasa yang berujung tak pasti pada Ilahi Harapku akan sebuah kebenaran haqiqi Teruntuk siapa berlabuhnya hati ini Semarang, 21 Januari 2019

Dunia Tak Seindah Bayangannya

Engkau telah lupa Bahwa kakimu masih menginjakkan dunia Kemudian meminta segalanya Padahal, dunia hanyalah alam fana