“Gitu banget sih mau presentasi doang sampe dicatet, diapalin”
begitulah kurang lebihnya yang sering diutarakan teman-teman seperkuliahan ketika
melihat saya akan presentasi.
Bagi mayoritas mahasiswa, presentasi hanya sebatas maju ke depan
kelas dan membacakan materi yang terpapar dalam slide. Namun bagi saya, pecahan
telur yang sekian lama didadar dari sebuah lembaga pendidikan yang berorientasi melahirkan murid berjiwa
guru, presentasi di depan kelas ibarat kita sedang berperan menjadi seorang
mudarris atau guru sehingga ruuhul mudarris harus dihadirkan di dalamnya atau
berjiwa guru. Bagaimana suatu ilmu pengetahuan itu dapat tersampaikan dari hati
ke hati. Meskipun beberapa dosen tidak menilai kelas presentasi tapi tetap saja
segala sesuatu harus dipersiapkan dengan baik.
Beranjak dari pernyataan singkat diatas, menggugah diri saya untuk berbincang
persoalan sistem pendidikan dengan menuliskan suatu profil lembaga pendidikan yang
kental dengan disiplin sistem pendidikan, salah satunya soal-menyoal kewajiban
membuat i’dad atau persiapan.
Mungkin terdengar aneh ketika kita harus membuang tenaga untuk
melakukan persiapan-persiapan yang terlihat remeh. Eitsss jangan salah ..
Persiapan itu sangat penting dalam semua pekerjaan. Pentingnya persiapan ibarat seorang musafir yang mau
mengadakan perjalanan, tentunya ia harus mempersiapkan bekal terlebih dahulu.
Jika tidak, bisa saja ia kehilangan kesempatan untuk sampai ke tempat tujuan.
“Man
‘arafa bu’da as-safari, ista’adda .”
Yang berarti, orang yang menyadari betapa jauhnya
perjalanan yang ditempuh, tentu ia bersiap-siap terlebih dahulu. Jika seorang
musafir sampai kehabisan bekal di tengah perjalanan, sedangkan ketika itu ia
berada di padang pasir nan tandus tanpa air minum dan makanan sedikit pun,
serta jauh dari pemukiman, maka ia akan kehilangan tenaga, tak berdaya, dan
akhirnya harus berpisah dengan dunia.
Dr. Moh Yamin juga demikian dalam menguraikan filsafat negara, membuat
orang-orang begitu terkagum. Akhirnya diketahui bahwa bahan-bahan itu diambil dari
satu buku berbahasa Jerman yang telah beliau siapkan dengan I’dad secara
matang.
Selain itu seorang ahli bahasa Arab, Dr. Ali Fahmi Al-Amrusyi, ketika
itu ia akan berkunjung ke Gontor untuk berpidato. Kemudian beliau mumulai untuk
menulis I’dadnya di Jakarta. Setelah sampai di Sarangan, ia terus
membaca I’dadnya berulang-ulang. Bahkan sesampainya di Gontor beliau
masih terus membaca I’dadnya. Padahal beliau seorang doktor bahasa Arab
dari Mesir, seorang ahli, tapi masih juga membaca I’dad.
Begitupula kejadian pada tahun 1957, ketika Pak Zarkasyi pendiri
Gontor berkunjung ke Mesir, beliau bertemu dengan para menteri dan diantar oleh
staf kedutaan. Karena kelihaiannya dalam bercakap-cakap dengan para menteri
dalam bahasa Arab, ketika kembali, ia ditanya saat sedang berada di dalam
mobil, “Dimana dan kapan ustadz belajar bahasa Arab?”, lalu beliau menjawab, “Tidak
jauh, di Indonesia saja.” Tetapi dalam batin beliau bergumam, “Saya belajar di depan santri alias dengan cara
mengajar, menjadi guru di Gontor berpuluh tahun dengan i’dad sebaik-baiknya, sesempurna-sempurnanya.”
Kekuatan I’dad itulah yang diakui oleh
seorang Pak Zar, tanpa gelar profesor, telah menjadi profesor di bidang bahasa
Arab. Bahkan, hal ini diakui oleh para pakar di bidang bahasa Arab.
Padahal , K.H. Imam Zarkasyi tidak pernah sekalipun belajar ke luar negeri.
Beliau hanya belajar bahasa Arab di Indonesia. Hanya saja, Pak Zar telah
bertahun-tahun mengajar dengan persiapan yang matang. Sama halnya dengan pemuka masyarakat hebat lainnya.
Kebiasaan seperti itu tidak terluntur sedikitpun dalam peng-implementasiannya
di salah satu lembaga persemaian guru-guru yang dapat kita temui di Jawa Timur.
Sistemnya dibuat sebagaimana sebuah lembaga pendidikan yang sedang mendidik
calon pendidik. Ta’liimu muta’allim serta adabu ta’liim diajarkan
sejak dini dan di praktikkan di berbagai kegiatan seperti, praktik pidato, kelas
bahasa pagi hari, pembina pramuka, mengajar di kelas sore, serta menjadi penguji
ujian pelajaran sore. Semua itu lagi-lagi harus lengkap dengan I’dad
dalam genggaman tangannya. Para murid dididik
untuk selalu membuat i’dad sebelum melakukan
apa saja, tidak lain untuk membekali diri dengan segala persiapan yang
dibutuhkan agar meraih hasil maksimal.
Pada puncaknya, sebelum terjun ke masyarakat, tiap murid harus
melewati ujian tarbiyah ‘amaliyah atau ujian praktik mengajar. Dimana murid
wajib membuat i’dad yang setiap kata, setiap kalimat, setiap pertanyaan,
setiap istilah yang diucapkan, harus dipersiapkan dan ditulis dalam buku i’dad.
Dan semuanya harus benar tidak boleh salah.
Bagi seorang anak setara dengan kelas 3 SMA, mempraktikkan kegiatan ini tentu
bukan hal yang mudah. Berbeda dengan ujian-ujian praktik pada umumnya, kegiatan
ini seharusnya dilakukan oleh mahasiswa jurusan keguruan bukan siswa setingkat SMA.
Bisa dibilang belum cukup umur, tetapi sudah berani diajarkan.
Perjuangan mereka dimulai dari pembuatan I’dad atau bahan ajar yang
tidak mudah. Penulisan I’dad harus menggunakan bahasa Arab untuk pelajaran
agama serta bahasa Inggris untuk pelajaran reading ataupun grammar dengan
tulisan tangan.
Penulisan i'dad pun dapat dilakukan setelah melalui tahap konsultasi kepada pembimbing atau musyrif/musyrifah agar tidak terjadi kekeliruan dalam pemahaman materi yang akan disampaikan nantinya. Sehingga silsilatul ‘ilmi tetap terjalin adanya sebagaimana pada zaman Nabi dan ulama-ulama terdahulu.
Penulisan i'dad pun dapat dilakukan setelah melalui tahap konsultasi kepada pembimbing atau musyrif/musyrifah agar tidak terjadi kekeliruan dalam pemahaman materi yang akan disampaikan nantinya. Sehingga silsilatul ‘ilmi tetap terjalin adanya sebagaimana pada zaman Nabi dan ulama-ulama terdahulu.
Uniknya, untuk dapat mengikuti ujian praktik mengajar, i’dad
harus dengan persetujuan pembimbing, pimpinan lembaga, serta pimpinan bagian
pengajaran. Dengan bubuhan tanda tangannya, menandakan bahwa i’dad
tersebut telah melalui prosedur yang baik dan dianggap tidak lagi ada kesalahan
dalam penulisannya. Apabila masih ada kesalahan, maka dengan segan i’dad tersebut
akan dikembalikan bahkan beberapa ada yang harus mengulanginya dari awal untuk
diperbaiki. Sedemikian pentingnya sebuah i’dad bagi seorang pendidik
sehingga harus digarap dengan sempurna.
Setelah i’dad sempurna, seorang murid baru diperbolehkan
melalukan ujian praktik mengajar. Ujian mengajarnyapun belum pernah saya temui
di lembaga pendidikan lain. Belum pernah saya temukan seorang guru mengajar di depan kelas dan di
evaluasi oleh lebih dari 10 guru-guru lainnya beserta penguji khusus. Begitulah
prosedural yang dijalankan lembaga ini saat ujian praktik mengajar
berlangsung. Yang diuji harus berhadapan dengan kurang lebih 10-15 peserta
ujian lainnya yang berdiri tegap mengelilingi kelas serta 2 pembimbing sekaligus
sebagai penguji. Untuk apa? Tentu untuk mengoreksi pengajar dengan menuliskan
kritik-kritik serta kekurangan dalam praktik mengajar yang nantinya hasil
koreksi tersebut di diskusikan bersama di bawah naungan pembimbing untuk dijadikan
pelajaran baru yang dapat diambil hikmahnya demi melahirkan guru-guru berkualitas
dan bermutu untuk ummat.
Inilah mengapa diantara rentetan ujian-ujian yang ada di lembaga
ini, ujian praktik mengajar adalah salah satu ujian paling menegangkan dibandingkan dengan ujian-ujian setelahnya yaitu ujian lisan maupun ujian tulis. Karena tidak hanya
pikiran yang diuji, tapi jiwa, dan mental menyertai.
I'dad Ujian Praktik Mengajar
Dengan sistem ujian praktik mengajar yang sedemikian rupa, mampu
melahirkan guru-guru yang terbiasa mempersiapkan segala sesuatu dengan baik.
Hal itu dapat dirasakan dampaknya hingga detik ini di lembaga tersebut, bagaimana
mekanisme seorang guru dari sebelum mengajar hingga setelahnya.
I'dad Guru
Disinilah dapat kita pahami bahwa setiap pengajar
harus mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh dalam mengajar, karena disiplin
persiapan mengajar yang diterapkan di lembaga ini sangat ketat.
“Kalau
mengajar itu dengan cara yang baik, dengan i’dad yang betul, gurunya
di muka kelas selalu berbesar hati, tidak nguncis di depan
murid. Maka, muridnya akan menjadi asyik, tambah ingin tahu, tambah cinta
kepada ilmu.” Pesan seorang pendiri lembaga ini.
Dan andaikata sistem ini diberlakukan di setiap
lembaga pendidikan di Indonesia, dimana pendidik diberi wadah untuk konsultasi
materi kepada para ahli tiap bidang ilmu sebagai referensi bahan ajar, pendidik harus menulis rangkuman materi sebaik-baiknya, yang kemudian wajib dikoreksi oleh pimpinan sekolah atau yang berkewajiban setiap akan masuk ruang kelas tentu
akan memberikan hasil pengajaran yang optimal. Sehingga untuk mengukur hasil
persiapan, juga diperlukan peran evaluator yang rutin mengawasi kelas-kelas yang
sedang belangsung KBM. Yang kemudian diadakan evaluasi rutin para pendidik tiap
minggunya sebagai hasil koreksi dari evaluator yang bertugas.
Dengan memperkuat disiplin persiapan, maka doktrin
“jiwa guru” akan mengakar kuat di setiap sanubari pendidik di Indonesia. Dan akan
sulit bagi seorang pendidik untuk mendidik asal-asalan, tidak mood, apalagi
tidak bertanggung jawab sampai mengosongkan ruang kelas tanpa kepastian yang
jelas. Sehingga tidak akan ada lagi label pendidik yang memakan gaji buta.
Disiplin persiapan mengajar akan membentuk
karakter seorang pendidik. Pendidik yang berkarakter akan melahirkan anak didik
yang berkarakter pula . Ketika pendidik yang berkarakter dan anak didik yang berkarakter
saling bersinergi, pendidikan di Indonesia tidak lagi diragukan dan tidak perlu lagi dicemaskan.
So, towards better
education quality in our beloved motherland, Indonesia, the discipline of teaching preparation is needed. Fight for Education J






Komentar
Posting Komentar