"Ikhlas bagaikan mutiara, Terbentuk karena ada yang luka , Jauh di kedalaman samudera , Perlu keberanian tuk meraihnya”
Ikhlas
merupakan kunci diterimanya ibadah serta amalan-amalan seseorang. Bahkan ada
sebagian orang yang mengatakan bahwa ikhlas merupakan puncak keimanan
seseorang. Seorang muslim sejati tidak akan pernah merasakan buahnya iman jika
ia tidak bisa ikhlas dalam menjalankan segala pekerjaannya.
Berbicara
mengenai makna Ikhlas mudah diucapkan, dijelaskan, diceramahkan dan ditulis
untuk disampaikan kepada orang lain. Pendefinisiannya juga mudah dipahami. Tapi
beratnya untuk mencapai derajat taqwa yang hakiki dan murni karena Allah swt.
Ada
tiga makna yang terkandung dalam ikhlas.
Pertama,mengkhususkan
tujuan semua perbuatan semata-mata hanya untuk Allah SWT.
Kedua,
melupakan pujian manusia sehingga hanya Rabb yang tampak di mata.Yang
diinginkan hanyalah pandangan Allah semata. Ketika seseorang menangis karena
Allah, ia sama sekali tidak menginginkan pujian dari manusia. Ia hanya hanya
ingin dilihat oleh Allah.
Ketiga,
ibadah yang dilakukan tidak berharap untuk disaksikan orang lain. Cukuplah
Allah yang menjadi saksi dari segala bentuk amalan yang ia lakukan.
Imam
Al Ghozali berkata, ” Semua manusia itu celaka, kecuali yang berilmu. Semua
yang berilmu itu celaka , kecuali yang beramal. Dan semua yang beramal akan
celaka, kecuali yang ikhlas. Dan orang yang ikhlas akan dibayangi bahaya yang
besar.”
Kita
tidak akan mengetahui dengan pasti apakah seseorang itu beramal dengan ikhlas
atau tidak, sebab ikhlas merupakan amalan hati. Hanya Allah semata yang
mengetahui.
Ikhlas
adalah amalan perbuatan yang dilakukan seseorang yang didorong oleh motivasi
yang kuat untuk mencari ridha Allah semata. Ikhlas tak mengharap balasan
duniawi, baik berupa harta maupun pujian dari sesama makhluk ciptaan Allah SWT.
Namun hal ini bukan hal yang mudah untuk dilakukan .
Sebenarnya,
mengapa ikhlas sulit dilakukan? Mengapa Allah Ta’ala menjadikannya demikian?
Bukankah mudah saja bagi-Nya untuk membuat semua hamba-hamba-Nya menjadi sosok
ikhlas yang hanya mengharapkan ridha-Nya semata?
Imam Sahl bin Abdullah al-Tustari, menjelaskan sebab sukarnya
ikhlas dengan mengatakan, “Ikhlas merupakan sesuatu yang paling sukar bagi
jiwa. Sebab nafsu tidak pernah menyediakan tempat untuknya.”
Sebabnya, nafsu. Nafsu itu, dilatih oleh setan terlaknat. Nafsu itu, jika menguasai seorang hamba, ianya bisa mengalahkan akal
sehat hingga membutakan. Nafsu itu jahat. Nafsu itu membinasakan. Namun,
manusia juga membutuhkan nafsu sesuai kadarnya guna kelangsungan hidup dan
derajat yang tinggi jika bisa menundukkannya.
Maka, di
antara kiat yang disampaikan oleh para ulama terdahulu, adalah dengan
memperdalam ilmu seraya menguatkannya dengan dzikir-dzikir agar hati senantiasa
fokus kepada Allah Ta’ala. Sebab, jika hati sudah sibuk dengan Allah Ta’ala,
ianya tak sedikit pun mau berpaling kepada hal-hal remeh selain-Nya.
Tapi, di
sini terletak kesukaran lainnya; sebab kita senantiasa terhubung dengan hal-hal
duniawi dalam kehidupan sehari-hari.
Islam
sangat menekankan pentingnya sikap ikhlas. Tanpa memiliki niat baik, amal yang
baik belum tentu bernilai baik pula. Selain itu, jika tidak ikhlas maka amalan
tersebut belum tentu diterima. Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ
عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا
الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ
إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ
هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى
مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan
seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada
Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang
siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya,
maka hijrahnya itu sesuai dengan niat dan tujuannya.” (HR. Bukhari,
Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)
Tertulis dalam sebuah pepatah “Al-Ikhlasu
Ruuhul ‘Amali”, Maksudnya ialah bahwasanya keikhlasan merupakan ruh dari setiap
pekerjaan. Keikhlasanlah yang akan membentuk militansi tak kenal menyerah di
setiap pribadi muslim. Keikhlasan juga yang akan membentuk pribadi kreatif nan
produktif. Orientasi inilah yang membuat seorang muslim optimal.
Ikhlas juga dapat membentengi diri dari gangguan syaitan, sebagaimana
diterangkan dalam firman Allah SWT surat Al Hijjr ayat 39-40:
قَالَ
رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأرْضِ وَلأغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
)٣٩( إِلا عِبَادَكَ مِنْهُمُ
الْمُخْلَصِينَ )٤٠
(
Iblis berkata, “ Ya Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan
bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan kejahatan terasa indah bagi mereka di
bumi, aku akan menyesatkan mereka semuanya(39) Kecuali hamba-hamba-Mu yang Ikhlas
di antara mereka.” (QS.AL HIJR : 39-40)
Maka jelaslah sekarang apa tujuan iblis, yaitu untuk menjadikan
manusia dalam kehinaan. Iblis dengan berbagai tipu muslihatnya
berusaha untuk menjerumuskan manusia dalam kemaksiatan. Untuk itulah kita butuh
perisai ampun yaitu ikhlas dalam berbuat agar bisa selamat darinya . Sebab
dalam Al-Quran, syetan sendiri diceritakan telah menyatakan bahwa satu-satunya
golongan yang tidak bisa di goda olehnya adalah “mukhlisun”, orang-orang yang
ikhlas.
Maka
ikhlaskanlah seluruh amalan karena Allah semata, janganlah pernah mengharap ada
orang yang tahu, dan golongkanlah diri sebagaimana yang disebutkan dalam firman
Allah yakni“mukhlisun”, orang-orang yang
ikhlas.

Komentar
Posting Komentar