Langsung ke konten utama

(PART III) Puncak Rentetan PKA : Panggung Gembira 691



Selepas tanggung jawab kami dalam acara pekan perkenalan khutbatul ‘arsy, tak cukup bagi kami untuk mensyukuri  kesudahannya . Kami masih mempunyai satu acara besar yang harus kami pertunjukkan kepada seluruh warga darussalam dan ini merupakan acara yang sangat ditunggu-tunggu bagi mereka. Pertunjukkan ini ialah ”Panggung Gembira 691”.

Panggung gembira merupakan sunnah pondok yang mana siswi akhir KMI diberikan amanah untuk menghandle acara ini. Acara ini bukan acara khusus bagi siswi akhir KMI, bukan seperti Drama Arena yang hanya kelas 5 yang menjadi participantnya. Namun acara ini diikuti oleh seluruh santriwati dari kelas 1 hingga kelas 6 itu sendiri. 

Panggung Gembira bukan hanya sekedar pagelaran seni, namun banyak sekali pelajaran hidup yang kami dapatkan di dalamnya. Ketika itu aku diberi kesempatan untuk berkarya di atas lembaran triplek-triplek putih alias dekorator. Hal ini terjadi untuk yang kedua kalinya ketika Drama Arena . Seketika perasaan sedih menghantui. Keinginanku untuk tampil di atas panggungpun luntur. Tapi itu tidak menjadi alasan untuk mundur dalam bergelut dengan cat cat yang mengotorkan.

”Dekor”? Ya ! itu sapaan hangat untuk kami dari teman-teman alias ”Dekil dan Kotor”. Sungguh mengenaskan sebenernya tapi memang sesuai dengan realita kami. Karena kami selalu berbeda dengan yang lain, bahkan baju kami tak pernah absen dari goresan-goresan cat yang berkilauan. Kami selalu disibukkan dengan pekerjaan ini, hingga sesaat kami lupa untuk pulang ke kamar. Segala aktivitas kami lakukan di markas kami, di ruang bawah tanah. Dimana itu merupakan tempat kami mengeluarkan ide-ide kami di atas triplek putih. Pagi kami diizinkan untuk tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar. Siang kita on hingga larut malam. 

Bahkan yang paling mengenaskan, kami sering dijulukin sebagai orang kudet. Ditanya acara apasaja yang akan dipentaskan ketika Panggung gembira pasti dari kami tidak ada yang tahu. Bahkan lagu icon panggung gembirapun kami tidak hafal ketika itu juga.  Ya ini tidak lain karena kami jauh dari peradaban. Kami jarang memunculkan diri ketika berlangsungnya latihan-latihan tersebut.

Kembali ke perjuangan kami di balik layar. Background kali ini kami bersepakat untuk memberi warna putih gading. Namun hal itu tidak disetujui. Sehingga dengan keterpaksaan kami harus menggantinya dengan warna yang lain yaitu warna kuning sedikit crem dan biru. Hal ini membuat kami sedikit nge-down. Karena memiliki backgroud putih merupakan cita-cita kami saat kelas 5. Tetapi harapan itu terbuang begitu saja. 

Berbagai dorongan dari luar pun berbondong-bondong menghampiri kami. Karena kami merupakan satu-satunya harapan terbesar dalam kesuksesan acara tersebut. Acara tak akan berjalan apabila background belum terselesaikan. Para pembimbing kami rela menemani kami siang malam tanpa henti dan tak pernah berhenti memberi kami semangat.

Adakalanya kami merasa jenuh dan penat dalam bekerja dan adakalanya kami bersemangat. Sedikit labil kurang lebihnya. Tapi kami selalu berusaha agar dapat memberikan yang terbaik nantinya. Karena panggung gembira merupakan kegiatan yang sangat firal bagi kami. 

Sungguh berwarna-warni kehidupan kami ketika itu. 100an triplek harus kami selesaikan dalam kurung waktu kurang lebih 1 bulan. Ditambah lagi dengan kesibukan kami yang bertepatan dengan perayaan 90tahun gontor membuat kami  kewalahan dalam menyelesaikannya.

Tepat H-1 acara akan berlangsung, hingga saat itu background kami belum jadi. Semua kekuatan kami kerahkan menjadi satu kesatuan untuk mengejar waktu. Semua memberikan harapan kepada kami.

Hari H pun datang, Sore itu background kami terpasang. Namun hal ini tidak membuat kami lega karena kami harus terbagi-bagi untuk mempersiapkan dekorasi jalan , dekorasi panggung dan sebagainya. Ini merupakan hal yang luar biasa yang belum pernah aku dapatkan ketika aku menduduki bangku SMP. 

Puncak acara diadakan pada malam hari. Disaat inilah kami bisa menghela nafas kami dengan menikmati atraksi-atraksi di dalamnnya. Acara yang dahsyat dengan persiapan yang ekstra kamipun bisa menyajikannya kepada warga darussalam. 

Yang terpenting dalam acara bukannlah nilainya, bukanlah pertunjukkannya, melainkan proses untuk mencapai acara ini merupakan point penting yang dapat kita petik hikmahnya. Berbagai pengorbanan kami keluarkan demi suksesnya acara besar ini. Seluruh kemampuan dan ide kami kerahkan untuk acara besar ini.

Dan yang terlebih penting bagi kami segenap ”orang belakang layar” ialah menjadi orang belakang bukan hal yang biasa,karena tanpa orang belakang , acara tidak akan dapat berjalan. ”Without us, everything is nothing”. Semboyan yang kami buat untuk menghibur diri kami sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Survival's Song : 90 Langkah

Lyric Lagu 90 Langkah Gontor Kabut membelai lembut kampung damai Cahaya sang surya menghangatkan Para khalifah muda yang akan mengukir Pendidikan yang terbaik untuk dunia Tiada tersadar hati Telah jauh langkah kaki menapak 90   langkah penuh perjuangan Keikhlasan kesederhanaan dan keteguhan

Lembayung Senja

Lembayung Senja Oleh: Naila Salma Nurkhalida Lambaian lembayung senja ramaikan keindahan laut Bergumam dalam sunyi tanyakan hati yang  lama terpaut Aku tak bisa pahami hati yang bergejolak  memarah Mengajakku bertepian dengan hati lain tanpa arah Inikah cinta? Kurasakan hati berlabuh dalam rasa Lambat laun menyapa dalam nyata Mengetuk bilik jantung dengan paksa Terengah diri ini menelisik makna kata demi kata Gelisah hati yang lama menepis rindu tanpa tahu kepada siapa hati harus merindu Ingin ku lontarkan serpihan hati bersamanya sebuah fetamorgana cinta tanpa sendu Namun hati yang lemah ini tak mampu beradu-padu Ku tanyakan pada jemari kecil yang senantiasa mengadah padaNya seraya mengadu Senja... Dimana singgahmu menghibur diri? Pencarianku akan sesosok bayangmu terluap pada ilusi dalam mimpi Pintaku tentang rasa yang berujung tak pasti pada Ilahi Harapku akan sebuah kebenaran haqiqi Teruntuk siapa berlabuhnya hati ini Semarang, 21 Januari 2019

Dunia Tak Seindah Bayangannya

Engkau telah lupa Bahwa kakimu masih menginjakkan dunia Kemudian meminta segalanya Padahal, dunia hanyalah alam fana