Selepas tanggung jawab kami dalam acara pekan perkenalan khutbatul ‘arsy, tak cukup bagi kami untuk mensyukuri kesudahannya . Kami masih mempunyai satu acara besar yang harus kami pertunjukkan kepada seluruh warga darussalam dan ini merupakan acara yang sangat ditunggu-tunggu bagi mereka. Pertunjukkan ini ialah ”Panggung Gembira 691”.
Panggung gembira merupakan sunnah pondok yang
mana siswi akhir KMI diberikan amanah untuk menghandle acara ini. Acara ini
bukan acara khusus bagi siswi akhir KMI, bukan seperti Drama Arena yang hanya
kelas 5 yang menjadi participantnya. Namun acara ini diikuti oleh seluruh
santriwati dari kelas 1 hingga kelas 6 itu sendiri.
Panggung Gembira bukan hanya sekedar pagelaran
seni, namun banyak sekali pelajaran hidup yang kami dapatkan di dalamnya.
Ketika itu aku diberi kesempatan untuk berkarya di atas lembaran
triplek-triplek putih alias dekorator. Hal ini terjadi untuk yang kedua kalinya
ketika Drama Arena . Seketika perasaan sedih menghantui. Keinginanku untuk
tampil di atas panggungpun luntur. Tapi itu tidak menjadi alasan untuk mundur
dalam bergelut dengan cat cat yang mengotorkan.
”Dekor”? Ya ! itu sapaan hangat untuk kami dari
teman-teman alias ”Dekil dan Kotor”. Sungguh mengenaskan sebenernya tapi memang
sesuai dengan realita kami. Karena kami selalu berbeda dengan yang lain, bahkan
baju kami tak pernah absen dari goresan-goresan cat yang berkilauan. Kami
selalu disibukkan dengan pekerjaan ini, hingga sesaat kami lupa untuk pulang ke
kamar. Segala aktivitas kami lakukan di markas kami, di ruang bawah tanah.
Dimana itu merupakan tempat kami mengeluarkan ide-ide kami di atas triplek
putih. Pagi kami diizinkan untuk tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Siang kita on hingga larut malam.
Bahkan yang paling mengenaskan, kami sering
dijulukin sebagai orang kudet. Ditanya acara apasaja yang akan dipentaskan
ketika Panggung gembira pasti dari kami tidak ada yang tahu. Bahkan lagu icon
panggung gembirapun kami tidak hafal ketika itu juga. Ya ini tidak lain karena kami jauh dari
peradaban. Kami jarang memunculkan diri ketika berlangsungnya latihan-latihan
tersebut.
Kembali ke perjuangan kami di balik layar.
Background kali ini kami bersepakat untuk memberi warna putih gading. Namun hal
itu tidak disetujui. Sehingga dengan keterpaksaan kami harus menggantinya
dengan warna yang lain yaitu warna kuning sedikit crem dan biru. Hal ini
membuat kami sedikit nge-down. Karena memiliki backgroud putih merupakan
cita-cita kami saat kelas 5. Tetapi harapan itu terbuang begitu saja.
Berbagai dorongan dari luar pun
berbondong-bondong menghampiri kami. Karena kami merupakan satu-satunya harapan
terbesar dalam kesuksesan acara tersebut. Acara tak akan berjalan apabila
background belum terselesaikan. Para pembimbing kami rela menemani kami siang
malam tanpa henti dan tak pernah berhenti memberi kami semangat.
Adakalanya kami merasa jenuh dan penat dalam
bekerja dan adakalanya kami bersemangat. Sedikit labil kurang lebihnya. Tapi
kami selalu berusaha agar dapat memberikan yang terbaik nantinya. Karena
panggung gembira merupakan kegiatan yang sangat firal bagi kami.
Sungguh berwarna-warni kehidupan kami ketika
itu. 100an triplek harus kami selesaikan dalam kurung waktu kurang lebih 1
bulan. Ditambah lagi dengan kesibukan kami yang bertepatan dengan perayaan
90tahun gontor membuat kami kewalahan
dalam menyelesaikannya.
Tepat H-1 acara akan berlangsung, hingga saat
itu background kami belum jadi. Semua kekuatan kami kerahkan menjadi satu
kesatuan untuk mengejar waktu. Semua memberikan harapan kepada kami.
Hari H pun datang, Sore itu background kami
terpasang. Namun hal ini tidak membuat kami lega karena kami harus terbagi-bagi
untuk mempersiapkan dekorasi jalan , dekorasi panggung dan sebagainya. Ini
merupakan hal yang luar biasa yang belum pernah aku dapatkan ketika aku
menduduki bangku SMP.
Puncak acara diadakan pada malam hari. Disaat
inilah kami bisa menghela nafas kami dengan menikmati atraksi-atraksi di
dalamnnya. Acara yang dahsyat dengan persiapan yang ekstra kamipun bisa
menyajikannya kepada warga darussalam.
Yang terpenting dalam acara bukannlah
nilainya, bukanlah pertunjukkannya, melainkan proses untuk mencapai acara ini
merupakan point penting yang dapat kita petik hikmahnya. Berbagai pengorbanan
kami keluarkan demi suksesnya acara besar ini. Seluruh kemampuan dan ide kami
kerahkan untuk acara besar ini.
Dan yang terlebih penting bagi kami segenap ”orang
belakang layar” ialah menjadi orang belakang bukan hal yang biasa,karena tanpa
orang belakang , acara tidak akan dapat berjalan. ”Without us, everything is
nothing”. Semboyan yang kami buat untuk menghibur diri kami sendiri.
Komentar
Posting Komentar