Langsung ke konten utama

Jangan Lelah Berproses Bersama Allah


Bukan soal-menyoal bagaimana hasilnya. Perkara proses mulai terkikis oleh lambat laun kerasnya kehidupan. Tak lagi mudah menemui kehidupan nyata dengan penuh keaslian.

Ribuan dimensi manusia berpadu, tak banyak dari mereka yang melihat bagaimana hal itu bermula dan berproses. Nyatanya cukup klasik, pandangan terfokus pada bait akhir dalam sebuah cerita, namun tak etik.

Hasil menjadi sebuah polemik besar penuh pertanyaan di tengah ketaatan sebagian khalayak. Dalam kehidupan sehari-hari pun demikian, kehidupan bukan ternilai dari seberapa besar pencapaian. Kehidupan terukur dari seberapa besar ketulusan menuju pencapaian. Itulah letak sebuah hakikat kehidupan dunia, dimana manusia kelak akan menuju pada lembaran akhir kehidupan, yaitu kematian. Proses bagaimana seseorang berbuat di dunia menuju hasil akhir tersebut yang menjadi saksi bisu perjuangan seseorang, dan nantinya akan mendapat hasil yang sempurna yaitu “JANNATULLAH” yang artinya Surga Allah.

Berjuang, berjuang, dan berjuang…

Tidak semua yang berproses dan berjuang akan mendapatkan buah yang manis bak surga-Nya. Esensi makna perjuangan kini hanya sebatas goresan tinta hitam di atas lembaran putih. Berjuang dengan berproses itu tentu. Namun bagaimana ia berprosespun menjadi suatu problematika besar. Apakah berproses dengan Allah SWT atau sebaliknya, berproses dengan setan?

Bukan lagi perihal ambisi, tapi obsesi.

Obsesi untuk mendapatkan hasil terbaik, hingga melupakan cara yang baik dalam meraihnya. “Yang penting berhasil , yang penting hasilnya baik, yang penting IPK bagus, dan kepentingan-kepentingan lain tentunya.”

Bukan! Bukan hanya sebatas asumsi akhir.

“With Allah SWT, everything is possible!”

Percaya atau tidak, hal itu pasti. Berproses bersama Allah, tidak akan menuai kekecewaan. Artinya, jangan sesekali merasa lelah untuk berproses dengan cara yang baik dalam meraih suatu pencapaian. Sekeras apapun berjuang dan berproses tanpa melibatkan-Nya, jangan pernah berharap akan hasil yang sempurna. Karena sukses yang hakiki bukan terletak pada hasil dan pencapaian yang didapat. Melainkan, perbuatan yang dilakukan selama berproses mencari kesuksesan.

Berproses bersama Allah-kah atau bersama setan selama ini ? 
Uusiikum Wa iyyaya Nafsii. In Uriidu Illal Islah.

“Jangan pernah bosan menebar kebaikan, berantas kejahatan, tegakkan kejujuran, tanamkan keikhlasan. Lillahi ta’ala

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Survival's Song : 90 Langkah

Lyric Lagu 90 Langkah Gontor Kabut membelai lembut kampung damai Cahaya sang surya menghangatkan Para khalifah muda yang akan mengukir Pendidikan yang terbaik untuk dunia Tiada tersadar hati Telah jauh langkah kaki menapak 90   langkah penuh perjuangan Keikhlasan kesederhanaan dan keteguhan

Lembayung Senja

Lembayung Senja Oleh: Naila Salma Nurkhalida Lambaian lembayung senja ramaikan keindahan laut Bergumam dalam sunyi tanyakan hati yang  lama terpaut Aku tak bisa pahami hati yang bergejolak  memarah Mengajakku bertepian dengan hati lain tanpa arah Inikah cinta? Kurasakan hati berlabuh dalam rasa Lambat laun menyapa dalam nyata Mengetuk bilik jantung dengan paksa Terengah diri ini menelisik makna kata demi kata Gelisah hati yang lama menepis rindu tanpa tahu kepada siapa hati harus merindu Ingin ku lontarkan serpihan hati bersamanya sebuah fetamorgana cinta tanpa sendu Namun hati yang lemah ini tak mampu beradu-padu Ku tanyakan pada jemari kecil yang senantiasa mengadah padaNya seraya mengadu Senja... Dimana singgahmu menghibur diri? Pencarianku akan sesosok bayangmu terluap pada ilusi dalam mimpi Pintaku tentang rasa yang berujung tak pasti pada Ilahi Harapku akan sebuah kebenaran haqiqi Teruntuk siapa berlabuhnya hati ini Semarang, 21 Januari 2019

Dunia Tak Seindah Bayangannya

Engkau telah lupa Bahwa kakimu masih menginjakkan dunia Kemudian meminta segalanya Padahal, dunia hanyalah alam fana