Langsung ke konten utama

Cantik Hakiki dan Abadi


“Kecantikan hakiki tidak sebatas kasat mata memandang, namun merasuk hingga mata hati berdendang, nan abadi ”
Artikulasi cantik menurut saya bukan sebatas raut wajah. Mengatakan seorang perempuan cantik bukan hal yg mudah untuk saya lontarkan dan tetapkan sebagaimana orang lain lakukan. Bahkan melihat ratusan artis di sosmed dari berbagai belahan duniapun tidak mampu menaklukkan hati ini untuk mengatakan dia cantik. Karena cantik menurut perspektif saya tidak sebatas kerja panca indra mata terhadap objek yang dituju berdasar bagus dan tidaknya, ataupun indah dan tidaknya, ataupun goodlooking dan tidaknya suatu objek.
Sekilas cerita tentang saya dan teman yang saya akui berhasil meraih gelar cantik versi saya. Dimana kami pernah duduk pada ruang yang sama saat itu di jenjang perkuliahan meski hanya berlangsung 1 tahun lamanya. Diawali dari keisengan saya yang sok kenal dan sok dekat. Kala itu saya memberanikan diri untuk duduk di antara gerombolannya. Seperti biasa, saya memulai dengan pancingan2 obrolan dan berakhir dengan diskusi yang cukup panjang. Ternyata kami memiliki tujuan yang sama kala itu. Ia berkeinginan untuk mengakhiri masa pengabdiannya dan ingin melanjutkan studinya di universitas ternama di Yogyakarta.
Setiap hari di bangku perkuliahan, saya selalu memperhatikannya. Ia adalah sosok yg paling tekun mempelajari materi2 SBMPTN dan membuat saya tergeleng-geleng sendiri saat itu, karena bekal kami sangat kurang dalam hal ini namun kegigihannya sangat luar biasa dalam meraihnya.
Dan entahlah akhir2 itu saya sering sekali mengambil tempat duduk yang berdekatan dengannya. Energi positif tak pernah berhenti terurai dari bibirnya yang membuat saya betah berlama-lama ngobrol dengannya. Ia selalu memotivasi saya dan teman2 saya lainnya. Saya merasa ter-charge alias terisi ulang baterai saya ketika berdekatan dengannya. Bahkan kami sering berdiskusi kecil di tengah jam perkuliahan berlangsung.
Lucunya lagi kami pernah sama2 iseng berargumen pada sebuah koran harian bacaan idaman para ustadzah2 kala itu, dimana kedua foto kami tertera pada selembar halaman koran tersebut. Disitulah saya mengetahui bahwa kami mempunyai hobi yang sama, sama sama suka mengutarakan sesuatu melalui goresan pena. Hanya saja dia sudah berada pada level teratas dan saya masih mengaung2 di permukaan.
Kami juga pernah menjadi lawan di suatu ajang perlombaan yg tidak jauh berbeda dari hal tulis menulis, yaitu lomba karya tulis ilmiah. Lagi lagi dia yang menang 1 tingkat diatas saya. Saya sangat kagum dengan keterluasan wawasannya yang mampu mengalahkan para kakak tingkat yang jauh lebih senior darinya. Ditambah lagi kami yang masih berumur 2 semester di bangku perkuliahan dimana materi menulis karya ilmiah belum diajarkan saat itu sehingga terpaksa kami harus berautodidak dalam menyelesaikannya. Darinyapun saya banyak belajar dan terinspirasi oleh ide ide gilanya untuk berlatih menulis sedikit demi sedikit.
Tak terasa waktu semakin cepat berlalu. Tiba waktunya ujian akhir semester di perkuliahan saya. Saya yang terlihat tak lagi bersemangat dalam menjalani hari2 akhir pengabdian ini hingga berimbas pada pengerjaan soal2 uas yang tak satupun materi terekam di otak ini. Dasar saya, selalu begini. Tapi beda halnya dengan dirinya. Ia tetap gigih membaca materi yang berlembar lembar banyaknya untuk menghadapi uas, di lain sisi ia juga tak kalah gigih mempelajari materi SBMPTN yang sama sekali awam bagi saya. 2 hal berat itu ia titikberatkan pada satu titik fokus dimana saya yakin tidak semua orang yang berposisi seperti kami mampu melewatinya.
Setelah beberapa saat kami berpisah meninggalkan medan perjuangan lama, ternyata Allah begitu menyayanginya, Allah mengabulkan setiap hembus doanya dan menjawab setiap jerih payah lelah dan letihnya. Sekarang ia berhasil menaklukkan universitas ternama di Yogyakarta. Ia resmi dinyatakan sebagai mahasiswi Universitas Gadjah Mada jurusan Psikologi.
Bagi saya, ia memang pantas mendapatkan semua ini, sesuai dengan apa yang ia perjuangkan selama ini tanpa harus melalaikan sedikitpun amanahnya sebagai seorang guru pada saat itu.
Kemarin, tepatnya tanggal 11 mei 2019 kami dipertemukan kembali dalam agenda besar angkatan kami, yaitu Survival Meet Jilid 1 di Yogyakarta. Dari kejauhan ia menyapa saya, saya kira dia yang telah bersekolah di universitas ternama itu telah melupakan saya. Ternyata tidakIa yang lebih dahulu menyapa dan menghampiri. Rupanya ia tak berubah, masih seperti dahulu dengan khasnya yang berpenampilan sangat sederhana.
Allah SWT mengizinkan saya untuk bisa berdiskusi lagi dengannya dan berbagi pengalaman baru tentunya meski hanya sesaat. Ia banyak menceritakan perihal baru di bangku perkuliahannya yang baru pula, dimana ia merupakan sosok minoritas dengan gayanya yang sangat sederhana namun tetap syar'i.
Bahkan di tengah keberadaannya sebagai penyandang gelar mahasiswi universitas negeri yang bukan lagi ada pada mileu pondok pesantren pun ia merupakan sosok perempuan tangguh yang rajin berburu kajian-kajian islam di dalam maupun luar kampus. Baginya dimanapun ia berpijak, dekat dengan Allah untuk menegakkan agama Allah tetap menjadi sasarannya, tak peduli sekeras dan seburuk apa lingkungannya.
Lagi lagi ia mengingatkan banyak hal untuk menghadapi kerasnya kehidupan. Dan bagi saya ia merupakan satu dari beberapa teman inspiratif saya yang saya akui kecantikan hakikinya seorang perempuan.
Inilah sebagian dari hasil interprestasi makna cantik dalam perspektif saya. Tetap menjadi muslimah yang menginspirasi. Semoga Allah selalu melindungimu dalam keistiqomahanmu.

 " لَيْسَ الجَمَالُ بِأَثْوَابٍ تُزَيِّنُنُا إِنَّ الجَمَالَ جمَاَلُ العِلْمِ وَالأَدَبِ

Bukanlah kecantikan itu dengan pakaian yang menghias kita, sesungguhnya kecantikan itu ialah kecantikan dengan ilmu dan kesopanan.

*For everyman, jangan terlalu berbesar hati atas kecantikan paras kekasih kalian, lihat dan perhatikan lebih dalam lagi setiap pilihan hatimu. Interprestasikan kata cantik berasaskan keanggunan nan islami, yang sedemikianlah esensi makna cantik teruraikan dengan sempurna dan abadi :)




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Survival's Song : 90 Langkah

Lyric Lagu 90 Langkah Gontor Kabut membelai lembut kampung damai Cahaya sang surya menghangatkan Para khalifah muda yang akan mengukir Pendidikan yang terbaik untuk dunia Tiada tersadar hati Telah jauh langkah kaki menapak 90   langkah penuh perjuangan Keikhlasan kesederhanaan dan keteguhan

Lembayung Senja

Lembayung Senja Oleh: Naila Salma Nurkhalida Lambaian lembayung senja ramaikan keindahan laut Bergumam dalam sunyi tanyakan hati yang  lama terpaut Aku tak bisa pahami hati yang bergejolak  memarah Mengajakku bertepian dengan hati lain tanpa arah Inikah cinta? Kurasakan hati berlabuh dalam rasa Lambat laun menyapa dalam nyata Mengetuk bilik jantung dengan paksa Terengah diri ini menelisik makna kata demi kata Gelisah hati yang lama menepis rindu tanpa tahu kepada siapa hati harus merindu Ingin ku lontarkan serpihan hati bersamanya sebuah fetamorgana cinta tanpa sendu Namun hati yang lemah ini tak mampu beradu-padu Ku tanyakan pada jemari kecil yang senantiasa mengadah padaNya seraya mengadu Senja... Dimana singgahmu menghibur diri? Pencarianku akan sesosok bayangmu terluap pada ilusi dalam mimpi Pintaku tentang rasa yang berujung tak pasti pada Ilahi Harapku akan sebuah kebenaran haqiqi Teruntuk siapa berlabuhnya hati ini Semarang, 21 Januari 2019

Dunia Tak Seindah Bayangannya

Engkau telah lupa Bahwa kakimu masih menginjakkan dunia Kemudian meminta segalanya Padahal, dunia hanyalah alam fana