Untuk
kreativitas yang paripurna, faktor utama yang menjadi daya pacunya adalah
motivasi diri.Dalam konteks ajaran Islam, faktor dari dalam berupa niat
berperan penting. Dari konteks tersebut, faktor niat menjadi alasan awal dalam
membangun kepribadian,dan niat itu pula yang menentukan hasil, termasuk
kepastian arah tujuan yang hendak dicapai. Berikut merupakan beberapa motivasi
diri yang perlu dikembangkan, yaitu :
A. Motivasi Iman dan Amal Saleh
Orang tua
dan guru harus menjadi motivator yang pertama bagi anak-anaknya. Mereka
mempunyai peran untuk menjelaskan keapda anaka akan pentingnya niat dan amal
saleh, serta menjelaskan kepada anak bahwa tujuan hidup pada hakikatnya adalah
mengabdi pada Sang Pencipa Alam Semesta, Allah SWT. Dan berkhidmat pada bangsa
dan negara, serta berbakti kepada orang tua dan guru yang telah mendidiknya.
Motivasi
iman dan amal saleh sangat berperan dalam kehidupan ini. Karena motivasi iman
dan amal saleh merupakan karakter pribadi unggul yang berbasis agama dan
termasuk budaya bangsa yang maju.
B. Motivasi Membangun Peradaban dalam Kehidupan
Menurut
Hasan Langgulung, motivasi adalah kegiatan psikologi yang merangsang dan
memberi arah aktivitas manusia. Motivasi itulah yang menggerakkannya ke arah
tujuan dan aktivitas-aktivitas seseorang.
Sedangkan M.Ustman
Najati mengatakan bahwa motivasi adalah kekuatan penggerak yang membangkitkan
kegiatan dalam diri makhluk hidup dan memotori tingkah laku serta
mengarahkannya pada suatu tujuan tertentu. Motivasi melalukan berbagai fungsi
yang primer dan penting bagi makhluk hidup. Motivasi juga yang mendorong
manusia melakukan banyak tindakan penting dalam usahanya menyesuaikan diri
dengan lingkungan hidupnya.
Dari kedua
pendapat di atas,dapat dipahami bahwasanya motivasi memiliki faktor penting
dalam membangun peradaban mansia dan bagi kemasahatan makhluk hidup.
Disinilah
peran orangtua dan guru memberikan panduan kepada anak, bahwa untuk motivasi
membangun peradaban dan kehidupan semua makhluk merupakan wawasan kreator yang
rahmatan lil’alamin.
C. Motivasi untuk Berprestasi
Orang tua
dan guru harus memahamkan bahwa nilai substansinya adalah bahwa motivasi untuk
berprestasi harus semata-mata sebuah
pengabdian kepada Allah SWT. Karena semua hasil ikhtiar yang berprestasi adalah
berkat kegigihan dalam bekerja dan
pertolongan Allah SWT.Dan prestasi merupakan sebuah ”batu” ujian bagi prestasi
selanjutnya dan ujian kesyukuran atas rahmat tersebut. Anak yang tidak meraih
prestasi bukan berarti tidak mampu dan tidak berkualitas, itu merupakan sebuah
pernyataan yang salah. Tetapi, mungkin kemampuannya belum maksimal
didayagunakan dalam sebuah kompetensi.
D. Motivasi untuk Berkompetisi Secara Sehat
Daya dorong
untuk bersaing merupakan motivasi yang praktis. Tujuannya untuk mengukur
profesionalisme seseorang dengan orang lain.
Orang tua
dan guru harus memahamkan kepada anak bahwa kompetisi merupakan pengaruh secara
psikis dari pendidikan yang diterima, nilai-nilai yang dipelajari dalam masyarakat
dan lingkungan, pembelajaran dari kebudayaan tempat ia hidup sehingga kempetisi
memacu untuk ke arah yang lebih baik meraih kejayaan.
E. Motivasi Diri untuk Sukses
Motivasi
diri pada landasan awalnya adalah sebuah niat yang mempunyai tujuan yang mengarah
pada kesuksesan dan berhasil.Pencapaian sukses dan hasil dimulai dari dorongan
dalam diri sendiri untuk mengubah kebaikan dan keberhasilan.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT. Menegaskan bahwa :
لَهُ
مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ
اللَّهِ ۗإِنَّ
اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗوَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا
مَرَدَّ لَهُ ۚوَمَا
لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ(الرعد:اا)
Artinya:
Bagi
manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan
di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak
mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada
diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu
kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung
bagi mereka selain Dia.(Q.S. Ar-Ra’d : 11)
Konteks
ayat di atas menegaskan bahwa kesuksesan harus dari kerja keras dan
sungguh-sungguh dalam meraihnya maka harus didorong dari dalam diri sendiri.
Menurut
George Shinn,ada beberapa langkah yang ditempuh bagi sesorang yang mengelola
motivasi dirinya untuk meraih kesuksesan, antara lain sebagai berikut.
1. Yakinkan bahwa anak akan berhasil
Keyakinan adalah suatu sikap,pandangan,cara berpikir anak tentang
sesuatu.Sikap dibentuk melalui pengetahuan dan pengalaman. Lebih jauh anak bisa
mengubah sikap memotivasi dirinya untuk melakukannya.
Jika tidak memulai keinginannya yang kuat untuk memperbaiki sikap
terhadap diri sendiri,anak tidak akan tertarik pada motivasi diri. Karena pada
hakikatnya, kepercayaan merupakan kunci menuju menuju pikiran yang tenang.
Untuk itu,perlu pikiran positif dalam menghadapi segala bentuk
permasalahan yang dihadapi, Karena pikiran negative tidak akan pernah
menghantarkan kepada sebuah kebaikan.
2.
Temukan talenta yang “tersembunyi”
Ada banyak talenta yang “tersembunyi” dalam
diri anak. Melepaskan talenta “tersembunyi” memerlukan motivasi diri yang
membuat talenta anak digunakan sepenuhnya. Disinilah peran orangtua dan guru
sangat ekstra.
Dengan motivasi diri untuk sukses,anak
akan memiliki sikap optimisme yang tinggi dan senantiasa giat mengembangkan
kreativitas dan talentanya hingga ia bersemangat meraih sukses pada masa
depannya.
F. Motivasi Belajar dan Berlatih
Untuk
sebuah kreativitas, janganlah selau berlandasan pada hasil,tetapi harus
memahami proses yang dilalui. Dari proses yang dilalui akan dapat dipahami
bagaimana hasil yang akan dicapai, dan dalam proses itulah, seorang kreator
akan banyak belajar dan berlatih sehingga ia akan mudah meraih kesuksesan.
Apabila
seseorang hanya terpacu pada hasilnya bukan proses,maka ia harus siap untuk
merasa kecewa dan putus asa. Di sini orang tua dan guru harus pro-aktif memberikan kesadaran pada anak bahwa belajar
dapat dijadikannya sebagai latihan untuk mewujudkan kesuksesan. Jika karya
kreatif dijadikan sarana belajar dan berlatih, anak akan mampu meningkatkan
kualitas karyanya sehingga ia akan bekerja professional. Untuk itu, selain
motivasi diri untuk mengembangkan kreativitas pribadi, motivasi diri untuk
pengembangan inovasi dan kreativitas dalam berpikir juga sangat dibutuhkan. Sehingga
menjadi dua hal yang saling berkesinambungan satu sama lain.

Komentar
Posting Komentar