Langsung ke konten utama

Bukan Guru Biasa


I’m Not a Real Teacher But I’m Proud
 
          Menjadi guru tidak semudah membolak-balikkan lembaran kertas pada buku, tidak semudah menggoreskan tinta pada kertas. 

          Ketika mentari mulai menyibakkan sinarnya, mata ini sesekali memaksa untuk membuka katup mata.Mempersiapkan rangkaian-rangkaian materi yang akan diajarkannya, dan bergegas untuk memulai aktivitasnya sebagai pendidik bagi anak didiknya. Berusaha sekuat tenaga dan pikiran untuk mewariskan ilmunya demi kesuksesan anak didiknya.

          Memang statusku ini bukanlah guru tersumpah dalam bahasa gaul atau disebut juga guru tidak resmi. Tentu saja! Karena aku baru saja menyelesaikan studiku di bangku KMI atau setara dengan kelas 3 SMA bukan lulusan sarjana , kemudian aku dituntut untuk menjadi seorang pendidik. Bagiku ini hal yang berat untuk dijalankan. Tetapi Gontor selalu mengajariku bahwasanya profesi yang paling mulia ialah menjadi seorang guru. Tidak mungkin seorang presiden menjadi presiden tanpa ilmu yang diberikan oleh guru. 

          Perlahan aku jalani kehidupan baruku ini, kini aku bukanlah seorang murid nanjuga santriwati lagi. Telah usai sudah semua perjuangan dan pengorbananku selama 4 tahun menjadi seorang murid KMI. Dan aku mulai mencoba untuk memahami apa arti seorang pendidik yang sebenarnya. Sepatah kata yang selalu melintas dalam pikiranku bahwasanya seorang pendidik bukan hanya sekedar memberikan ilmu kepada muridnya . Melainkan mendidik , mengayomi , mengajar , hingga apa yang kita berikan dapat menjadikan sebuah pendidikan dan pelajaran hidup bagi mereka.  

          Disini aku diberi sebuah amanat besar yaitu menjadi assisten wali kelas dimana aku harus berkiprah dan turut andil demi kesuksesan mereka. Serta 3 peran yang harus aku perankan kepada muridku yaitu “KUN UMMAN,KUN UKHTAN,WA KUN SOOHIBATAN”. Dimana aku harus menjadi motivator mereka ketika mereka lemah , aku harus menjadi tempat keluh kesah bagi mereka , aku harus menjadi tempat mereka mengadu dan segalanya. 

Memang tak ada seorang yang sempurna yang selalu bahagia, ada kalanya seseorang itu merasa gundah, labil, apalagi seusiaku ini. Tetapi aku selalu berusaha untuk mengubur dalam-dalam rasa kesedihan yang menyelimuti hatiku di hadapan murid-muridku. Dan aku yakin bahwa aku diciptakan tidak lain untuk menjadi wanita yang kuat dan tegar. 

          Namun ada satu hal yang unik luar biasa yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Entah mengapa lukis senyuman muridku , canda gurau muridku membuat rasa gundahku hanyut dihempas ombak. Bahkan di balik ribuan masalah yang menimpaku , kesedihan yang menyelimutiku , kini aku menemukan obatnya. Yaitu mereka yang selalu membuatku tersenyum bangga padanya.

          Ketika itu aku sempat merasa lelah dengan kegiatanku yang seperti ini. Di samping aku harus mengajar di pagi hari, akupun juga harus belajar di bangku perkuliahan pada sore hari hingga malam hari. Tapi kini aku tersadar bahwasanya apa yang aku lakukan disini merupakan kegiatan positif yang bisa menuntunku menuju jalanNya,tak ada waktu bagiku untuk memikirkan hal-hal yang tak penting. Tak ada waktu bagiku untuk melakukan hal-hal yang membawaku menuju kemaksiatan.
        
          Diusiaku yang masih berusia 19 tahun, usia-usia labil. Terkadang aku bingung mana yang harus aku dulukan. Apakah tugas kuliahku yang sudah menumpuk diiringi dengan dosen yang super killer atau kegiatan pondok ? setelah lama aku berdiam, ternyata kepentingan bersama harus kita dahulukan bukan kepentingan pribadi yang kita prioritaskan. Ketika kita memprioritaskan kepentingan ummat yakinlah , InsyaAllah segala sesuatu akan dimudahkan oleh Allah SWT. Seperti pepatah ini “SEBESAR KEINSYAFANMU SEBESAR ITU PULA KEUNTUNGANMU”

          Dan kini aku mulai memahami dibalik kehidupanku ini.  Aku memang bukan guru biasa, karena di setiap langkahku menapak, di setiap nafasku menghela , begitu banyak pelajaran hidup yang aku dapatkan di posisiku ini sebagai mahasiswi guru.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Survival's Song : 90 Langkah

Lyric Lagu 90 Langkah Gontor Kabut membelai lembut kampung damai Cahaya sang surya menghangatkan Para khalifah muda yang akan mengukir Pendidikan yang terbaik untuk dunia Tiada tersadar hati Telah jauh langkah kaki menapak 90   langkah penuh perjuangan Keikhlasan kesederhanaan dan keteguhan

Lembayung Senja

Lembayung Senja Oleh: Naila Salma Nurkhalida Lambaian lembayung senja ramaikan keindahan laut Bergumam dalam sunyi tanyakan hati yang  lama terpaut Aku tak bisa pahami hati yang bergejolak  memarah Mengajakku bertepian dengan hati lain tanpa arah Inikah cinta? Kurasakan hati berlabuh dalam rasa Lambat laun menyapa dalam nyata Mengetuk bilik jantung dengan paksa Terengah diri ini menelisik makna kata demi kata Gelisah hati yang lama menepis rindu tanpa tahu kepada siapa hati harus merindu Ingin ku lontarkan serpihan hati bersamanya sebuah fetamorgana cinta tanpa sendu Namun hati yang lemah ini tak mampu beradu-padu Ku tanyakan pada jemari kecil yang senantiasa mengadah padaNya seraya mengadu Senja... Dimana singgahmu menghibur diri? Pencarianku akan sesosok bayangmu terluap pada ilusi dalam mimpi Pintaku tentang rasa yang berujung tak pasti pada Ilahi Harapku akan sebuah kebenaran haqiqi Teruntuk siapa berlabuhnya hati ini Semarang, 21 Januari 2019

Dunia Tak Seindah Bayangannya

Engkau telah lupa Bahwa kakimu masih menginjakkan dunia Kemudian meminta segalanya Padahal, dunia hanyalah alam fana