Engkau
telah lupa
Bahwa
kakimu masih menginjakkan dunia
Kemudian
meminta segalanya
Sebagian manusia mengira bahwa
kehidupan dunia ini adalah kekal, sehingga mereka melupakan tujuan dan hakikat
hidup yang sebenarnya. Mereka menjadikan dunia ini sebagai sarana untuk
bersenang-senang. Bahkan manusia berlomba-lomba dalam meraih urusan duniawi
serta melupakan kewajibannya sebagai Hamba Allah SWT. Sesungguhnya kemuliaan,
kekayaan, derajat, kejayaan , kemenangan tetaplah bersifat fana dan sementara.
Tidak ada bagian darinya yang patut dibanggakan.
Dunia ini memang indah, laksana
istana megah yang bisa membahagiakan manusia, laksana benteng kokoh yang akan
melindunginya, laksana menara tinggi yang akan mengangkat derajatnya, nan kebun
luas yang menyediakan makanan baginya. Namun ini hanyalah pandangan kabur
manusia yang tak pernah sadar bahwasanya dunia tak seindah banyangannya
melainkan hanyalah angan-angan semata. Dunia ini tak sebanding dengan akhirat.
Coba renungkan!
Ketika kita pergi ke pantai , dan
mencelupkan jari kita ke dalam air, lalu angkat jari kita. Lihatlah, seberapa
air yang tersisa di jarimu itu? Seberapa banyak dibandingkan air yang ada di
hamparan samudera?
Itulah makna kehidupan dunia ini
apabila dibandingkan dengan kehidupan di akhirat yang kekal.
Ketiadaan pengetahuan manusia tentang
hakikat dunia, ditambah lagi dengan tipisnya tingkat keimanan seseorang,
menyebabkan manusia jatuh kedalam jurang kedzaliman yang mudah tergiur dengan kenikmatan
dunia. Hingga Rasulullah SAW sangat mengkhawatirkan umatnya yang berlomba-lomba
dalam urusan dunia.
Dari Abu Hurairah, Nabi
bersabda, yang artinya: “ Yang aku khawatirkan pada kalian bukanlah kemiskinan,
namun yang ku khawatirkan pada kalian adalah saling berbangganya kalian dengan
harta.( HR. Ahmad)
Mari kita merenungkan kembali..
Apa yang kita bawa ketika kita
terlahir di dunia ini?
Di dunia ini , manusia terlahir
dengan tangan kosong. Kita tak mempunyai apa-apa. Semua tak terkecuali hanya
milik Allah SWT Sang Pencipta alam semesta ini. Seperti halnya ketika kita
membangun rumah , setelah lamanya bangunan itu termakan usia maka akan menjadi
rapuh. Bahkan pakaian yang kita kenakan juga akan menjadi usang kelak. Lantas
apa yang kekal dari dunia ini?
Oleh sebab itu, Allah SWT selalu
mengingatkan kita agar menjauhkan diri dari sifat riya’, sifat yang
menjerumuskan kita untuk mengejar urusan dunia . Allah telah berfirman di dalam
Alqur’an
إِنَّمَا
أَمْوَالُكُمْ
وَأَوْلادُكُمْ
فِتْنَةٌ
وَاللَّهُ
عِنْدَهُ
أَجْرٌ
عَظِيمٌ
)15( فَاتَّقُوا
اللَّهَ
مَا
اسْتَطَعْتُمْ
وَاسْمَعُوا
وَأَطِيعُوا
وَأَنْفِقُوا
خَيْرًا
لأنْفُسِكُمْ
وَمَنْ
يُوقَ
شُحَّ
نَفْسِهِ
فَأُولَئِكَ
هُمُ
الْمُفْلِحُونَ
(16)
"Sesungguhnya hartamu
dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang
besar.(15) "Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan
dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu [1480].
Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah
orang-orang yang beruntung.”(QS. At-Taghabun : 15-16)
Wahai muslimin sejati...
Janganlah engkau heran, resah,
gundah, jika dunia tak menyediakan semua keinginanmu. Tak perlu heran dengan
sifat dunia yang membatasi apa yang terdapat di dalamnya. Pohon di dunia hanya
menghasilkan buah-buahan selama setahun sekali, sedangkan di akhirat pepohonan
itu dapat dipetika buahnya kapan saja kita mau. Usia manusia hanya terbatas
untuk menjalani hidupnya di dunia ini , tetapi usia manusia di akhirat ?
selamanya kita akan hidup di akhirat. Jangan heran ketika kita melihat banyak
anak-anak yang kurang cerdas tak seperti yang engkau inginkan, jangan heran
ketika engkau mendapat rezeki tidak seperti yang diinginkan. Ingatlah, bahwa
kaki kita masih memijakkan dunia.
Lantas, apa yang harus kita lakukan
terhadap dunia yang fana ini?
Wahai muslimin sejati....
Pandanglah dunia ini dari atas dan
bawah. Yang demikian lebih layak dan menentramkan hati kita. Sebab Rasulullah
SAW bersabda,
“Perhatikanlah orang yang
berada di bawahmu dan jangan kamu memperhatikan orang yang berada di atasmu,
karena yang demikian itu lebih pantas, agar kamu semua tidak menganggap remeh
nikmat Allah yang telah dikaruniakan kepadamu. (HR Bukhari dan Muslim)
Dengan memandang dunia ke arah bawah akan
membawa kita dalam ketentraman hidup di dunia ini dengan segala nikmatNya dan
selalu merasa cukup atas nikmatNya . Oleh karena itu, bersyukurlah atas apa
yang Allah berikan terhadap kita di dunia ini.
Ingatlah.
Hidup di dunia ini hanyalah sementara
. Jadi, cukupkanlah dalam mengejar urusan duniawi, karena InsyaAllah ketika
kita menjadikan perantara dunia ini dengan perbuatan-perbuatan baik, maka Allah
akan memberikan kita kenikmatan yang tiada hentinya di akhirat kelak.

Komentar
Posting Komentar