“Layaknya cahaya mentari dan rintik hujan. Keduanya dibutuhkan
untuk menciptakan goresan pelangi yang indah. Begitu halnya laki-laki dan
perempuan. Keduanya dibutuhkan untuk menciptakan kabahagiaan dalam hidup.”
Selama ini, cukup banyak stigma negatif yang ditujukan
terhadap ajaran islam. Salah satunya
adalah bahwa islam mendeskriminasikan kaum perempuan, tidak menghargai
kedudukan mereka, menjadikannnya menjadikan manusia kelas dua yang terkungkung
dalam otoritas kaum laki-laki. Muslimah pun akhirnya dikesankan sebagai makhluk
terbelakang serta tersisih dari dinamika kehidupan sosial.
Maka tak heran jika banyak yang mengemukakan ajaran islam
adalah problem tersendiri terhadap perjuangan kesetaraan kaum wanita dan
laki-laki. Ini merupakan hal yang sewajarnya apabila pendapat ini dikemukakan
oleh orang non-islam atau orang yang membenci islam. Namun hal ini menjadi tak
wajar ketika kaum muslim terseret oleh arus menuju jalan yang. Mereka nyata
namun seakan-akan tak hidup. Mereka berpikir bahwa islam tidak adil dalam
penyetaraan kaum wanita dan laki-laki. Justru mereka banyak membuang nilai
islam yang sebenernya telah berpijak pada keadilan abadi.
Jika ada yang mengatakan bahwa islam membeda-bedakan kaum
wanita dengan laki-laki, Sungguh ia termasuk ke dalam golongan orang-orang yang
tidak beriman yang kadar pemahaman terhadap islam perlu di benahi. Allah SWT
ialah Sang Maha Adil terhadap makhluk ciptaannya, keadilannnya bersifat mutlak
. Ia sama sekali tidak membeda-bedakan kaumnya baik wanita maupun laki-laki.
Saat ini banyak kita temukan aktivis-aktivis perempuan yang
meneriakkan kesetaraan peran, padahal hal ini telah terjadi beberapa tahun
silam, yaitu wanita yang hidup pada zaman nabi, Ummu Salamah. Ia pernah
bertanya kepada nabi.
“Dari Ummu Salamah ra, “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW, ‘Mengapa kami kaum perempuan tidak disebutkan keutamaannnya dalam Al-Qur’an sebagaimana kaum laki-laki?’ Rasulullah SAW segera menjawab. Namun,pada waktu yang lain, Aku (Ummu Salamah) melihat beliau berdiri di atas mimbar. Ketika itu aku sedang menyisir rambut. Setelah selesai menggulung rambut, aku masuk ke salah satu kamar di rumahku. Kupasang pendengaranku di dekat atap masjid yang ketika itu masih terbuat dari pelepah kurma, dan posisinya dekat dengan mimbar masjid. Aku mendengar nabi berkata, (QS Al-Ahzab: 35)
إِنَّ
الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ
وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ
وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ
وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ
كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا
عَظِيمًا (٣٥)
Artinya:
“ Sesungguhnya laki-laki dan
perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan
perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar,
laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk,
laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa,
laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan
yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan
dan pahala yang besar."(QS Al-Ahzab: 35)
Jadi, landasan yang dapat kita jadikan sebagai dasar bahwa di
dalam agama islam ini tidak membeda-bedakan antara kaum wanita dan laki-laki.
Yang dapat dijadikan tolak ukur dalam perbedaan manusia di hadapan Allah ialah
keimanannya. Keimanan seseoranglah yang mempunyai parameter yang sangat tinggi.
Bukan berdasar rupa, harta, kedudukan , apalagi popularitas.
Permasalahan lain ialah banyaknya aktivis-aktivis perempuan
yang berpendapat bahwa selama ini syari’at islam tidak berpihak kepada
perempuan. Mereka mempermasalahkan perihal pembagian harta warisan, hak dan
kewajiban istri, serta beberapa aturan lain yang mereka anggap tidak patut.
Padahal hal ini merupakan aturan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT di dalam
kitabnya. Yangmana ketetapan bersifat benar atau haq. Allah selalu menetapkan
segala sesuatu dengan hikmahnya. Sungguh mustahil Allah memberi ketetapan tanpa
adanya hikmah dibalik ketetapan itu.
Sudahlah wahai kaum hawa..
Tak ada yang perlu dipermasalahkan dengan semua aturan islam.
Karena Tuhan adalah Pencipta kita ,Ia adalah Sang Khalik. Sama seperti kita
ingin membeli handphone. Siapa yang mengetahui spesifik handphone secara detail
? tidak lain pasti produsernya. Ketika kita membelinya , tak lupa disertai buku
petunjuk pemakaiannya yang harus kita panuti agar kita bisa mengoperasikan
handphone tersebut secara optimal. Permisalan ini sama halnya dengan Allah Yang
Maha Mengetahui hamba-hambaNya. Dan kewajiban kita sebagai hambaNya ialah
mematuhi aturan-aturanNya.
Maka dariitu, cukupkanlah kita serahkan diri kita ini kepada
Sang Khalik. Berjalanlah lurus sesuai dengan aturan yang telah dirangkai di
dalam agama yang indah ini yaitu agama islam. Karena syariat islam merupakan
sebuah pedoman hidup manusia untuk menyelamatkan umat manusia di dalam
bayang-bayang kehidupan dunia yang fana ini.
Wahai kaum hawa...
Ketahuilah bahwa kita diciptakan didunia ini untuk
mendampingi laki-laki. Tanpa kita, laki-laki tak akan sempurna agamanya.
Seorang pakar perempuan asal Amerika, Margaret Seed, pernah
menyatakan bahwa dunia akan lebih baik kalau kedua jenis manusia, laki-laki dan
perempuan, mengakui bahwa masing-masing memiliki kemampuan yang berlebih
dibandingkan dengan yang lain dalam bidang yang berbeda-beda.
Pada hakikatnya perempuan dan laki-laki saling melengkapi
satu sama lain. Tidak selayaknya kedua makhluk yang saling menggenapi ini
justru dibanding-bandingkan. Karena sungguh tak bijak dua hal yang berbeda dan
memiliki peran berbeda jika di banding-bandingkan.
Mohammad Al-Ghozali mengungkapkan, “ Kalau saja kehidupan di
permukaan bumi didasari oleh pilihan keikhlasan dan kesetiaan, kelurusan
berpikir dan kebenaran tingkah laku, sesungguhnya kedua jenis manusia ,
laki-laki dan perempuan, sama dalam bidang-bidang tersebut. Disinilah, waktu
sesekali laki-laki yang unggul, dan di waktu lain perempuanlah yang unggul.”
Demikianlah Allah telah mendesain laki-laki dan perempuan
beserta perannya masing-masing untuk mencapai kesempurnaan. Manusia memang
tidak ada yang sempurna , tetapi Allah SWT mencintai hambaNya yang selalu
berusaha untuk mencapai kesempurnaan. Dan laki-laki tidak bisa bertahan hidup
tanpa adanya perempuan, begitu pula sebaliknya. Layaknya cahaya mentari dan
rintik hujan. Keduanya dibutuhkan untuk menciptakan goresan pelangi yang indah.
Begitu halnya laki-laki dan perempuan. Keduanya dibutuhkan untuk menciptakan
kabahagiaan dalam hidup.
Komentar
Posting Komentar