Langsung ke konten utama

Postingan

Towards Better Education Quality, The Discipline of Teaching Preparation is Needed

“Gitu banget sih mau presentasi doang sampe dicatet, diapalin” begitulah kurang lebihnya yang sering diutarakan teman-teman seperkuliahan ketika melihat saya akan presentasi. Bagi mayoritas mahasiswa, presentasi hanya sebatas maju ke depan kelas dan membacakan materi yang terpapar dalam slide. Namun bagi saya, pecahan telur yang sekian lama didadar dari sebuah lembaga pendidikan yang berorientasi melahirkan murid berjiwa guru, presentasi di depan kelas ibarat kita sedang berperan menjadi seorang mudarris atau guru sehingga ruuhul mudarris harus dihadirkan di dalamnya atau berjiwa guru. Bagaimana suatu ilmu pengetahuan itu dapat tersampaikan dari hati ke hati. Meskipun beberapa dosen tidak menilai kelas presentasi tapi tetap saja segala sesuatu harus dipersiapkan dengan baik. Beranjak dari pernyataan singkat diatas, menggugah diri saya untuk berbincang persoalan sistem pendidikan dengan menuliskan suatu profil lembaga pendidikan yang kental dengan disiplin sistem pendidik...
Postingan terbaru

Perjalanan

Menyerah pada impian ? Pantaskah dilakukan ? ⠀ Lagi lagi hasil menjadi persoalan. ⠀ Orientasi hasil di nomor satukan.⠀ Hasil bukan ukuran, melainkan perjalanan. ⠀ Betapa banyak jiwa menginginkan keberhasilan. ⠀ Namun masih ada 1 yang terlupakan . ⠀ ⠀ Ya , proses! Proses mendapatkan ! ⠀ Nyatanya, berproses selalu disalahartikan. ⠀ Proses untuk sebuah tujuan bukan lagi tuntutan kewajiban.⠀ ⠀ Hakikat proses juga tentang pilihan . ⠀ Pilihan yang akan menentukan arah perjalanan . ⠀ Akankan jalan keburukan atau kebaikan. ⠀ ⠀ Betapa banyak hasil yang memuaskan tanpa mengidahkan esensi proses kebaikan . ⠀ ⠀ Betapa proses menuangkan narasi positif akan makna keikhlasan, perjuangan, dan kesabaran. ⠀ ⠀ Betapa proses mengajarkan untuk berjuang menjalani roda kehidupan. ⠀ ⠀ Betapa proses pula yang akan menghantarkan jiwa yang penuh ambisi kepada suatu hasil mulia di kemudian.⠀ ⠀ Jika proses tak kasat oleh indra penglihatan,⠀ izinkan proses bercengkerama de...

Hebat : Yang Dekat dan Taat

Ingat ! Yang Hebat : Yang Dekat dan Taat “Dunia ini ibarat bayangan. Kejar dia, maka sungguh kau tak akan bisa menangkapnya. Balikkan badanmu darinya, maka tidak ada pilihan baginya kecuali mengikutimu.” ‌Seuntai kisah dari sepotong balasan chat seorang teman inilah yang membuat saya merasa gatal untuk memaparkannya dalam susunan parafrase. ‌Saat itu kondisi dan keadaan menyelimuti dan menghantui saya untuk bergerak dan beraktivitas all out the box. Melihat story instagram teman teman lama saya yang jauh lebih hebat dimana tak ada satupun darinya yang menduduki bangku perkuliahan di universitas swasta,  tidak seperti saya. Kemudian melihat teman2 lama yang hebat dengan karya karyanya yang bergelimang, dan melihat mereka dengan segudang prestasinya membuat saya terobsesi untuk menjadi seperti mereka. Di lain sisi, dorongan orang tua dan kakak saya yang selama ini mati2an membiayai biaya kuliah yang superduper eksklusif, dan sangat memprihatinkan masa depan saya...

Cantik Hakiki dan Abadi

“Kecantikan hakiki tidak sebatas kasat mata memandang, namun merasuk hingga mata hati berdendang, nan abadi ” Artikulasi cantik menurut saya bukan sebatas raut wajah. Mengatakan seorang perempuan cantik bukan hal yg mudah untuk saya lontarkan dan tetapkan sebagaimana orang lain lakukan. Bahkan melihat ratusan artis di sosmed dari berbagai belahan duniapun tidak mampu menaklukkan hati ini untuk mengatakan dia cantik. Karena cantik menurut perspektif saya tidak sebatas kerja panca indra mata terhadap objek yang dituju berdasar bagus dan tidaknya, ataupun indah dan tidaknya, ataupun goodlooking dan tidaknya suatu objek. Sekilas cerita tentang saya dan teman yang saya akui berhasil meraih gelar cantik versi saya. Dimana  kami  pernah duduk pada ruang yang sama saat itu di jenjang perkuliahan meski hanya berlangsung 1 tahun lamanya. Diawali dari keisengan saya yang sok kenal dan sok dekat. Kala itu saya memberanikan diri untuk duduk di antara gerombolannya. Seperti...

Pengalaman : Sang Pelatih tak Bernyawa

Akan selalu ada suatu masa yang menginjak saat pertama.⠀ Saat pertama melakukan hal baru tentunya. ⠀ Saat yang bermula dari keraguan, ketakutan, dan berbuah tidak sesuai dengan ekspekstasi pada nyatanya . ⠀ Namun, hal itu mampu menghadirkan tekad kuat untuk mempelajari lebih dalam pada akhirnya. ⠀ ⠀ Berulang kali kegagalan menghampiri. ⠀ Ternyata disinilah letak kehidupan haqiqi mengajari. ⠀ Memberi kita sesosok pelatih tak bernyawa. ⠀ Ya! Pengalaman namanya . ⠀ Pengalaman yang menjadi pelatih terhebat kita rupanya. ⠀ Melatih kita untuk lebih percaya dalam berkarya. ⠀ Hanya saja terkadang diri ini terlalu dalam melebur ke dalam fatamorgana mimpi, hingga tak jarang diri menerimanya. ⠀ Saat ini dan seterusnya, ⠀ Kita mempunyai pelatih hebat, yang tertanam pada jiwa yang kuat, sesekalipun tak bernyawa. ⠀ ⠀ Yogyakarta, 6 Mei 2019⠀

Dilematika Ilusi Mimpi

⠀ *Bait tentang kami yang pernah bermimpi pada satu atap medan juang yang sama, Gontor, Ibu kandung kami, dan masih bermimpi di pijakan yang sama, Indonesia, tanah air kami.*⠀ ⠀ Dalam suatu mimpi pada satu ilusi tabu. Kami pernah bercerita tentang mimpi yang saling beradu padu. ⠀ Setiap kaki melangkah, hati ini saling bersapa dalam harapan penuh abu.⠀ ⠀ Kala itu, ingin hati merangkai mimpi. ⠀ Menelusuri isyarat yang ingin terpenuhi.⠀ Naluri yang tergoreskan untuk sebuah ilusi,⠀ Sesegera mengakhiri untuk memulai hal baru dengan tujuan pasti. ⠀ ⠀ Ya! Kami pernah bermimpi pada satu ilusi yang sama.⠀ Sama sama ingin mengangkat kaki dari tempat yang sama menuju arah yang sama. Bersama sama menyebarkan keharuman medan perjuangan lama,⠀ Di ujung belahan dunia sana. ⠀ ⠀ Nyatanya, hanya kala itu. ⠀ Rupanya, hanya sekedar ilusi mimpi yang tabu. ⠀ ⠀ Hingga akhirnya kami bertukar isak tangis dan haru. ⠀ Meratapi ilusi-ilusi semu. ⠀ ⠀ Ini bukan yang terakhir dari cerita kam...

Perihal masa : Antara Aku dan Mereka

Kebersamaan dalam kekeluargaan, pertahankan! . Terima kasih atas sepercik kehangatan yang pernah tersirat meski tengah berlalu. . Antara aku, mereka, dan pengalaman pada sebuah perjuangan yang terlukiskan oleh kenangan. . Lembaran-lembaran itu penuh dengan titik-titik, tentunya dari torehan tinta hitam yang perlahan mencoba untuk merangkai kisah klasik dan usik. . Meski harus menerjang lika liku kehidupan , namun ia tak pernah ingkar untuk mengajarkanku. Mengajarkanku arti sebuah kebersamaan. Bersama untuk berproses, bersama untuk berjuang, bersama untuk menebarkan kebaikan, bersama untuk memberikan yang terbaik dari yang baik.  . Dan lagi, perihal k ehidupan . Ia mengajarkanku memahami esensi makna kehidupan yang hakiki. Nyatanya, hidup tidak sekedar mempertahankan eksistensi diri. Tapi lebih daripada itu, kehidupan yang mengajarkanku untuk bersyukur. Bersyukur mengenal sosok sosok hebat seperti kalian, yang tak pernah lelah untuk berproses bersama Allah. ...